Detail Artikel

Manual Testing dan Automated Testing: Dua Pendekatan yang Saling Melengkapi dalam Quality Assurance

AHMAD MATHLAUL FALAH (Mahasiswa) Dipublikasikan 08 October 2026
Manual Testing dan Automated Testing: Dua Pendekatan yang Saling Melengkapi dalam Quality Assurance

Manual dan automated testing bukan pesaing; keduanya saling melengkapi untuk membangun proses Software Quality Assurance yang lebih efektif.

Pengujian sering dipandang sebagai tahap untuk memastikan perangkat lunak “berjalan dengan benar”. Dalam praktik Software Quality Assurance (SQA), persoalannya lebih luas. Kualitas tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan sebuah fitur ketika diuji, tetapi juga oleh seberapa baik proses pengembangan mampu mencegah, menemukan, dan memperbaiki masalah sebelum berdampak pada pengguna.

Di tengah siklus pengembangan yang semakin cepat, automated testing menjadi pilihan yang menarik. Test script dapat dijalankan berulang kali dengan prosedur yang sama, sehingga sangat berguna untuk regression testing atau pemeriksaan yang harus dilakukan setelah perubahan kode. Rafi et al. (2012), melalui kajian literatur dan survei terhadap 115 praktisi perangkat lunak, menemukan bahwa manfaat automation banyak dikaitkan dengan repeatability, reusability, test coverage, dan penghematan usaha pada saat eksekusi. Namun, penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa 80 persen responden tidak setuju jika automated testing dianggap akan sepenuhnya menggantikan manual testing.

Temuan tersebut penting karena perdebatan manual testing versus automated testing sering dibingkai seolah-olah keduanya saling meniadakan. Padahal, keduanya bekerja dengan kekuatan yang berbeda.

Automated testing sangat efektif ketika langkah pengujian sudah jelas, hasil yang diharapkan dapat didefinisikan, dan pengujian perlu diulang berkali-kali. Mesin dapat mengeksekusi prosedur yang sama secara konsisten tanpa dipengaruhi kelelahan. Pada proyek yang menggunakan continuous integration, kemampuan ini membantu tim memperoleh umpan balik lebih cepat setelah terjadi perubahan pada kode.

Akan tetapi, otomatisasi juga memiliki biaya. Test script perlu dibuat, dipelihara, dan disesuaikan ketika sistem berubah. Pada pengujian berbasis antarmuka, perubahan kecil pada struktur halaman bahkan dapat membuat script tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Nass, Alégroth, dan Feldt (2021) menunjukkan bahwa GUI test automation masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk persoalan pemeliharaan dan sensitivitas terhadap perubahan.

Masalah lain adalah flaky tests, yaitu test yang dapat berubah antara pass dan fail tanpa perubahan relevan pada kode yang diuji. Tahir et al. (2023) menunjukkan bahwa flakiness dapat dipengaruhi oleh faktor seperti concurrency, asynchronous behavior, jaringan, waktu, maupun lingkungan eksekusi. Jika terlalu sering terjadi, kondisi ini justru dapat mengurangi kepercayaan tim terhadap hasil pengujian.

Di sinilah manual testing tetap mempunyai tempat. Manusia dapat mengeksplorasi perilaku sistem, memperhatikan kejanggalan yang belum pernah dituangkan menjadi test case, serta menilai hal-hal yang sulit direpresentasikan oleh assertion teknis. Sebuah halaman mungkin berhasil dimuat dan seluruh tombol berfungsi, tetapi belum tentu alurnya mudah dipahami pengguna. Penilaian seperti ini masih membutuhkan konteks dan pertimbangan manusia.

Karena itu, keberhasilan QA seharusnya tidak diukur dari seberapa besar persentase pengujian yang berhasil diotomatisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: pengujian mana yang memang memperoleh manfaat dari automation, dan pengujian mana yang masih membutuhkan manusia?

Haas et al. (2024) juga menunjukkan bahwa manual dan automated testing sama-sama digunakan dalam praktik industri. Keduanya bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan bagian dari strategi pengujian yang dapat digunakan secara berdampingan.

Automated testing paling tepat digunakan untuk pekerjaan yang berulang, stabil, dan membutuhkan konsistensi tinggi. Sementara itu, manual testing tetap bernilai untuk eksplorasi, evaluasi pengalaman pengguna, serta kondisi yang membutuhkan pemahaman konteks. Dengan pembagian peran yang tepat, automation bukan pengganti tester, melainkan alat yang membebaskan tester dari pekerjaan repetitif agar dapat fokus pada risiko kualitas yang lebih kompleks.