Detail Artikel

Menemukan ‘Harta Karun’ Tersembunyi: Tiga Koleksi Langka di Pusdok LPMQ yang Menyimpan Sejarah Dunia

NADA MUTIARA AZHAM (Mahasiswa) Dipublikasikan 01 September 2026
Menemukan ‘Harta Karun’ Tersembunyi: Tiga Koleksi Langka di Pusdok LPMQ yang Menyimpan Sejarah Dunia

Pusdok-Q LPMQ menyimpan tiga koleksi langka bernilai sejarah tinggi, termasuk Al-Qur'an internasional dan peninggalan bersejarah tokoh bangsa.

JAKARTA – Banyak orang mengira perpustakaan hanyalah deretan rak berisi buku-buku berdebu yang membosankan. Namun, persepsi itu akan runtuh seketika saat Anda melangkah masuk ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Literasi Al-Qur’an (Pusdok-Q) milik Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ). Terletak di kawasan Jakarta, ruangan ini menyimpan berbagai peninggalan berharga yang merekam perjalanan panjang sejarah Islam, baik di Nusantara maupun kancah internasional.

Di balik pintu kaca dan suasana yang tenang, Pusdok-Q LPMQ bukan sekadar tempat penyimpanan literatur keagamaan biasa. Tempat ini adalah penjaga marwah dan pusat referensi yang merekam bagaimana Al-Qur’an dihargai dan dijadikan jembatan diplomasi antarbangsa.

"Di dalam Pusdok-Q LPMQ ini, bisa dikatakan menyimpan harta karun yang indah, sayang sekali jika tidak diperkenalkan pada publik," ucap Bapak Heri selaku Pustakawan Ahli Muda yang ada di LPMQ. Pernyataan tersebut menggambarkan betapa kayanya koleksi yang tersimpan di dalam ruang arsip ini, yang menunggu untuk disingkap oleh para akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Di antara ribuan literatur yang tersusun rapi, terdapat tiga koleksi paling memukau penulis yang layak disebut sebagai "harta karun" utama. Koleksi pertama adalah Al-Qur'an dari Negeri yang "Tak Terduga" yang dihadirkan secara khusus pada masa perhelatan akbar Festival Istiqlal kedua, tepatnya pada tahun 1995. Perlu diketahui, Festival Istiqlal pada masanya tercatat sebagai festival Islam terbesar di Asia. Yang membuat koleksi ini sangat unik dan sarat makna adalah latar belakang para pemberinya. Al-Qur’an-Al-Qur’an tersebut justru diberikan oleh negara-negara yang mayoritas penduduknya non-Islam. Kehadiran naskah-naskah ini menjadi bukti nyata bagaimana toleransi global, dialog antar peradaban, dan penghormatan terhadap kitab suci mampu menembus batas-batas geografis serta perbedaan keyakinan di kancah internasional.

Bergeser ke koleksi kedua: Cinderamata Seorang Presiden Republik Indonesia Kedua, Pusdok-Q LPMQ menyimpan sebuah kenegaraan yang bernilai historis tinggi, yakni Al-Qur’an souvenir dari Kerajaan Yordania. Mushaf istimewa ini merupakan cinderamata resmi yang dihadirkan khusus untuk Presiden Kedua Republik Indonesia, Bapak Soeharto, ketika beliau melakukan kunjungan kenegaraan ke Yordania. Sentuhan seni khas Timur Tengah yang megah pada sampul dan iluminasinya memancarkan keindahan estetika Islam tingkat tinggi. Melalui mushaf ini, pengunjung dapat melihat bagaimana Al-Qur’an kerap dijadikan simbol penghormatan tertinggi dalam tradisi diplomasi antar negara sahabat.

Tanda tangan seorang tokoh bangsa: harta karun ketiga yang tersimpan di tempat ini memiliki tautan langsung dengan salah satu tokoh penting perdana menteri Indonesia ke-8 dan ke-10, yaitu Ali Sastroamidjojo (1903-1975). Koleksi tersebut berupa sebuah mushaf Al-Qur’an berbahasa Belanda edisi ketiga yang diterbitkan jauh pada masa kolonial, tepatnya pada tahun 1916. Keberadaan buku ini semakin istimewa karena di dalamnya terdapat tanda tangan asli milik Ali Sastroamidjojo sendiri. Naskah kuno ini memberikan gambaran mendalam bahwa para tokoh penting kemerdekaan Indonesia tetap menjaga kedekatan spiritual yang erat dengan Al-Qur’an, terlepas dari dinamika politik dan zaman yang mereka hadapi saat itu.

Menyaksikan langsung lembaran-lembaran kertas tua yang menguning, mencermati detail huruf cetak masa lalu, serta melihat guratan tanda tangan tokoh bangsa di atas teks suci, memberikan pengalaman batin yang luar biasa. Setiap goresan tinta dan tekstur jilidan di tempat ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu dari lembaran sejarah peradaban manusia yang melintasi batas waktu, politik, dan kebudayaan.

Pihak pengelola Pusdok LPMQ berharap agar keberadaan koleksi-koleksi langka ini tidak hanya berhenti sebagai arsip internal semata. Sosialisasi dan publikasi yang masif dinilai sangat penting agar generasi muda, khususnya mahasiswa dan pegiat sejarah, mengetahui bahwa Indonesia memiliki pusat dokumentasi literasi Al-Qur’an yang sangat kaya dan membanggakan.

Bagi masyarakat umum, akademisi, maupun peneliti yang tertarik untuk melihat dan mempelajari langsung jejak-jejak sejarah ini, pintu Pusdok-Q LPMQ terbuka lebar. Berkunjung ke tempat ini bukan sekadar aktivitas membaca buku di perpustakaan, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual untuk menyentuh akar peradaban Islam yang megah, inspiratif, dan penuh dengan cerita tersembunyi di jantung ibu kota.