Detail Artikel

KAWRUH: Kolaborasi Mahasiswa Membangun Literasi AI untuk Pendidikan Berkualitas Menuju SDGs 4

AZKA WILDAN AL-GHIFFARI (Mahasiswa) Dipublikasikan 16 September 2026
KAWRUH: Kolaborasi Mahasiswa Membangun Literasi AI untuk Pendidikan Berkualitas Menuju SDGs 4

KAWRUH mendorong literasi AI kritis dan humanis melalui kolaborasi mahasiswa untuk mendukung pendidikan berkualitas dan SDGs 4.

Surabaya, 2026 - Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan ruang belajar. Dari menyusun tugas, merangkum materi, menerjemahkan dokumen, hingga membantu menghasilkan karya tulis, teknologi generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude telah membuka cara baru dalam proses pendidikan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan yang tidak kalah penting: apakah peserta didik telah cukup literat untuk menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab?

Persoalan inilah yang menjadi perhatian Azka Wildan Al-Ghiffari, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga, melalui gagasan KAWRUH (Kolaborasi Artificial Intelligence Untuk Wujudkan Ruang Unggul Humanis). Gagasan tersebut lahir dari kegelisahan bahwa perkembangan pemanfaatan AI di dunia pendidikan bergerak lebih cepat dibandingkan kesiapan literasi penggunanya. Akibatnya, AI berisiko diposisikan sebagai jalan pintas untuk memperoleh jawaban, bukan sebagai sarana memperkuat proses berpikir.

“AI harus dimanfaatkan untuk memperluas wawasan dan memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikan proses belajar,” demikian gagasan utama yang menjadi pijakan KAWRUH.

KAWRUH membawa prinsip “AI as Learning Partner, Not Learning Replacement”. Melalui pendekatan tersebut, AI ditempatkan sebagai mitra pembelajaran yang membantu peserta didik mengeksplorasi gagasan, menganalisis informasi, menyelesaikan persoalan, dan mengembangkan inovasi. Di saat yang sama, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, etika digital, serta integritas akademik tetap ditempatkan sebagai fondasi utama.

Gagasan tersebut berangkat dari sejumlah tantangan nyata. Rendahnya literasi AI dapat membuat peserta didik kesulitan memahami cara kerja teknologi, memeriksa akurasi informasi, mengenali bias, maupun menentukan batas penggunaan AI yang etis dalam kegiatan akademik. Pemanfaatan yang berlebihan juga berisiko mendorong ketergantungan dan menjadikan proses berpikir sebagai sesuatu yang dapat sepenuhnya dialihkan kepada mesin.

Karena itu, KAWRUH tidak berhenti pada gagasan, tetapi dirancang melalui tiga keluaran utama, yakni Modul Literasi AI bersama KAWRUH, Webinar Literasi AI, serta Laporan Evaluasi Literasi AI. Modul dirancang memuat pengenalan AI, etika penggunaan, teknik prompting, verifikasi informasi, dan integritas akademik. Webinar menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan peserta didik, sementara evaluasi melalui pengukuran sebelum dan sesudah program ditujukan untuk melihat perkembangan pemahaman peserta.

Model tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi. Mahasiswa dapat mengambil posisi sebagai agent of change, social control, dan innovator dengan membangun jembatan kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, industri, dan masyarakat. Dalam konteks KAWRUH, kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Dasar konsep dan gagasan KAWRUH juga bertujuan untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 4: Quality Education. Pendidikan berkualitas pada era transformasi digital tidak cukup dimaknai sebagai tersedianya perangkat dan akses teknologi. Pendidikan juga harus memastikan peserta didik memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak, kritis, etis, serta bertanggung jawab. KAWRUH berupaya menerjemahkan kebutuhan tersebut melalui peningkatan kompetensi literasi AI sekaligus penguatan kapasitas pendidik dan peserta didik.

Pendekatan KAWRUH didasarkan pada UNESCO AI Competency Framework for Students, yang menempatkan empat dimensi penting dalam kompetensi AI, yaitu human-centred mindset, AI ethics, AI techniques and applications, serta AI system design. Dengan demikian, peserta didik tidak diarahkan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga individu yang mampu mengevaluasi dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

"Masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih AI digunakan, melainkan oleh seberapa bijak manusia yang mengarahkan."