Detail Artikel

Gagas Model Bisnis IhsanGel, Mahasiswa FEB UNAIR Sulap Limbah Perikanan Jadi Peluang Industri Halal

MUHAMMAD RAKHMATUL WAKHID (Mahasiswa) Dipublikasikan 21 September 2026
Gagas Model Bisnis IhsanGel, Mahasiswa FEB UNAIR Sulap Limbah Perikanan Jadi Peluang Industri Halal

Mahasiswa FEB UNAIR menggagas IhsanGel, bisnis gelatin halal dari limbah perikanan berteknologi HalalTrace berbasis pembiayaan syariah.

Kebutuhan akan bahan baku gelatin halal untuk industri kapsul dan kosmetik di Indonesia terus mengalami peningkatan. Namun, sebagian besar pasokan gelatin nasional masih bergantung pada produk impor yang memiliki tantangan pada aspek kepastian akan rantai pasok halal. Menjawab peluang tersebut, tim mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangg merancang strategi komersialisasi produk bernama IhsanGel, sebuah inovasi bisnis olahan gelatin halal berbahan dasar limbah perikanan.

Tim yang terdiri dari Muhammad Ubaidillah, Muhammad Rakhmatul Wakhid, dan Kayla Garnetha Natania ini memfokuskan inovasi pada pemanfaatan limbah kulit dan sisik ikan dari industri pengolahan perikanan lokal. Langkah ini diambil untuk menciptakan nilai tambah ekonomi (added value) pada rantai pasok perikanan sekaligus mengurangi dampak dari adanya pencemaran limbah organik.

"Sebagai mahasiswa ekonomi bisnis, kami melihat adanya potensi ekonomi sirkular yang sangat besar dari limbah perikanan. Limbah kulit dan sisik ikan yang selama ini terbuang begitu saja dapat dioptimalkan menjadi produk berdaya saing tinggi untuk menyuplai kebutuhan bahan baku salah satunya farmasi dan industri halal lokal," ujar Kayla

Integrasi Teknologi HalalTrace dan Fitur SEAL

Tidak hanya dari sisi pengolahan limbah dan nilai ekonomi, keunggulan model bisnis IhsanGel terletak pada kepastian transparansi produk bagi konsumen industri. Tim menambahkan dua fitur inovasi pendukung, yaitu HalalTrace dan SEAL.

HalalTrace merupakan sistem pelacakan (traceability) digital berbasis blockchain yang mencatat seluruh alur bahan baku dari sumber nelayan/pasar hingga menjadi produk jadi. Sementara fitur SEAL dirancang sebagai sistem jaminan keamanan kemasan untuk memastikan mutu dan kehalalan produk tetap terjaga selama proses distribusi B2B (business-to-business).

"Integrasi teknologi HalalTrace memberikan kepastian transparansi dari titik kritis halal bagi mitra industri secara real-time. Didukung dengan keamanan kemasan melalui fitur SEAL, melalui integrasi HalalTrace dan fitur keamanan SEAL, kami memastikan kualitas serta kehalalan produk tetap terjaga 100 persen dari pabrik hingga sampai ke tangan konsumen," jelas Ubai.

Skema Pembiayaan Syariah dan Prospek Finansial

Untuk merealisasikan operasional usaha, tim menerapkan skema pembiayaan berbasis syariah dengan akad Musyarakah Mutanaqisah (MMq) yang bekerja sama dengan perbankan syariah sebesar 40 persen, dipadukan dengan 60 persen dari modal ekuitas.

"Skema MMq memungkinkan kami bermitra dengan bank syariah dalam kepemilikan aset fasilitas produksi secara proporsional. Porsi kepemilikan bank diproyeksikan akan diambil alih secara bertahap menggunakan arus kas operasional hingga aset menjadi hak milik penuh perusahaan dalam kurun waktu empat tahun," tuturnya.

Melalui inovasi ini, tim berharap IhsanGel dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk melahirkan rancangan bisnis berbasis keberlanjutan. "Kami berharap rancangan bisnis ini dapat menjadi kontribusi nyata mahasiswa FEB UNAIR dalam mendukung penguatan industri halal nasional," tutupnya.