Melihat yang Jarang Terpandang melalui SURADAYA-What Remains Unseen
SURADAYA - What Remains Unseen adalah pameran fotografi yang mengusung tema aspek kehidupan Surabaya yang jarang tersorot.
Surabaya - Pada hari Jumat, 18 Agustus 2026, acara SURADAYA - What Remains Unseen diselenggarakan secara kolaboratif oleh Wisma Jerman Surabaya dan Institut français Indonésie di galeri seni Orasis Art Space.
SURADAYA - What Remains Unseen merupakan pameran fotografi yang menampilkan berbagai pengalaman sehari-hari dari warga atau lokasi di Surabaya yang jarang disorot secara umum. Foto-foto yang digelarkan adalah hasil tangkapan 12 fotografer yang terdiri dari 10 pengkarya asal Surabaya dan dua pengkarya asal Jerman. Karya dari setiap fotografer dibagi menurut tema dan objek yang mereka tentukan secara individu. Tujuan dari pameran ini adalah menceritakan berbagai kegiatan rutin masyarakat dan objek-objek sekitar yang kerap kali tidak terlihat oleh masyarakat umum yang telah membentuk keadaan sosial-budaya di Surabaya. Selain itu, foto-foto tersebut memberi perhatian pada semua tantangan hidup yang dihadapi oleh berbagai individu yang didokumentasikan.
Salah satu karya fotografi di pameran tersebut adalah kumpulan foto berjudul Savero, After School yang ditangkap oleh David Akbar Maulana. Karya ini menceritakan kehidupan sehari-hari seorang penari Remo berusia 14 tahun, Savero Permata Yusuf, yang kerap dipanggil Vero. Sekarang, Vero adalah seorang murid SMPN 45 Surabaya yang menduduki kelas delapan. Ia adalah anggota lelaki terakhir di studio dansa Laboratorium Remo. Kumpulan foto ini mengikuti alur kehidupan rutin Vero sebagai seorang murid dan penari Remo yang ingin melestarikan budaya tarian tersebut. Bagian utama dari karya ini adalah sebuah potret besar Vero yang mengenakan busana tradisional khas Tari Remo. Sebagai pelengkap, banyak foto kecil yang berisi aksesori Remo, seperti gongseng atau lonceng kaki, mengelilingi potret besar tersebut. Selain foto yang menceritakan Vero sebagai penari Remo, terdapat foto-foto lainnya yang menggambarkan kehidupan Vero di luar hobinya, seperti foto keluarganya. Cerita yang ingin disampaikan oleh David di dalam karya ini mengusung identitas, ketangguhan, dan pilihan Vero untuk terus menari.
Melalui Savero, After School dan karya-karya lain, SURADAYA mampu menceritakan berbagai perspektif unik dari kehidupan di Surabaya yang mengedukasi semua pengunjungnya melalui sajian visual yang unik dan emosional dari setiap jepretan kamera pengkarya. Pergelaran karya seperti ini menyimpan arsip mengenai kehidupan di Surabaya seiring berkembangnya masyarakat global.