Menjembatani Teknologi dan Organisasi: Relevansi Mahasiswa IT dalam Kehidupan Berorganisasi
Mengulas mengapa keikutsertaan mahasiswa IT dalam organisasi kemahasiswaan tetap relevan, meski tidak berhubungan langsung dengan keahlian teknis.
Sebagian mahasiswa Teknologi Informatika kerap memandang organisasi kemahasiswaan sebagai kegiatan yang kurang relevan dengan jurusan mereka. Kesibukan kuliah, praktikum, coding, dan mengerjakan proyek membuat organisasi dianggap sebagai aktivitas tambahan yang tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan teknis. Pertanyaannya kemudian muncul: untuk apa mahasiswa IT mengikuti organisasi jika tujuannya adalah menjadi programmer atau developer?
Pandangan tersebut sebenarnya berangkat dari asumsi bahwa relevansi suatu kegiatan harus selalu linier dengan bidang keilmuan. Padahal, dunia kerja teknologi tidak hanya menuntut kemampuan menulis kode, tetapi juga kemampuan berkomunikasi dengan pengguna, bekerja sama dalam tim lintas peran, dan menyelesaikan masalah yang melibatkan manusia, bukan sekadar sistem. Dengan kata lain, menjadi mahasiswa IT bukan hanya soal membangun teknologi, tetapi juga memahami persoalan yang ingin diselesaikan oleh teknologi tersebut.
Di titik inilah organisasi kemahasiswaan memiliki peran penting. Organisasi memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kepemimpinan, manajemen waktu, dan kerja sama tim—keterampilan yang tidak selalu diperoleh melalui kelas atau praktikum. Penelitian Lestari dan Kurniawati (2023) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan soft skill yang signifikan, khususnya dalam hal kerja sama tim, komunikasi, dan pemecahan masalah, antara mahasiswa yang aktif berorganisasi dan yang tidak. Temuan ini menegaskan bahwa keikutsertaan dalam organisasi memberikan dampak nyata terhadap pengembangan diri mahasiswa, terlepas dari latar belakang program studinya.
Relasi antara IT dan organisasi sebenarnya bersifat dua arah. Di satu sisi, mahasiswa IT dapat membawa kemampuan teknisnya ke dalam organisasi, misalnya melalui digitalisasi administrasi, pembuatan situs web kegiatan, atau pengolahan data anggota, sehingga organisasi turut merasakan manfaat langsung dari keahlian tersebut. Di sisi lain, organisasi memberikan pengalaman menghadapi persoalan yang tidak memiliki jawaban tunggal seperti pada kode program—perbedaan pendapat, tanggung jawab kolektif, dan pengambilan keputusan dalam tekanan waktu. Yolanda, Sari, dan Ismail (2024) menyimpulkan bahwa organisasi mahasiswa berperan signifikan dalam membentuk karakter kepemimpinan sekaligus meningkatkan soft skill melalui keterlibatan aktif anggotanya.
Dengan demikian, ketidaklinieran organisasi terhadap jurusan tidak seharusnya diartikan sebagai ketidakrelevanan. Mahasiswa IT tetap dapat menjadi mahasiswa IT sepenuhnya sambil terlibat dalam organisasi, sebab keduanya saling melengkapi: teknologi mengasah cara berpikir sistematis, sementara organisasi mengasah cara bekerja bersama manusia. Organisasi bukan kewajiban, melainkan salah satu ruang belajar di antara banyak pilihan lain seperti penelitian, kompetisi, atau proyek independen—namun ruang ini menawarkan sesuatu yang jarang tergantikan oleh teknologi itu sendiri.
Pada akhirnya, relevansi tidak selalu berjalan lurus dengan jurusan. Mahasiswa IT yang berorganisasi tidak sedang meninggalkan dunia teknisnya, melainkan memperluasnya—dari coding menuju kolaborasi, dari sistem menuju manusia yang akan menggunakannya.
Daftar Pustaka
Lestari, R. Y., & Kurniawati, T. (2023). Peranan Organisasi Kemahasiswaan dalam Pengembangan Soft Skill Mahasiswa (Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang). Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(2), 17955–17962.
Yolanda, S., Sari, S. M., & Ismail, I. (2024). Peran Organisasi Mahasiswa dalam Membangun Karakter Kepemimpinan dan Peningkatan Soft Skill. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 9(4), 361–370.