Detail Artikel

Standar atau Model? Kita Sering Salah Memilih karena Salah Memahami

MUALLIM MAAFI AHMAD (Mahasiswa) Dipublikasikan 08 October 2026

Opini: standar menjamin mutu perangkat lunak, sedangkan model proses hanya menentukan cara kerja tim.

Dalam banyak diskusi soal pengembangan perangkat lunak, pertanyaan "pakai Waterfall atau Agile?" sering muncul lebih dulu daripada pertanyaan "kualitas seperti apa yang ingin dicapai?". Menurut saya, di situlah letak masalahnya. Kita terlalu sibuk memilih model proses, padahal mutu perangkat lunak sebenarnya ditentukan oleh standar yang dipegang tim.

Dua Hal yang Berbeda

Model proses, seperti Waterfall (Royce, 1970), Spiral (Boehm, 1988), atau Scrum (Schwaber & Sutherland, 2020), adalah cara kerja: urutan tahapan dan pembagian peran (Pressman & Maxim, 2020; Sommerville, 2016). Standar, seperti ISO/IEC/IEEE 12207 (2017) dan ISO/IEC 25010 (2011), adalah patokan: apa yang wajib ada dan seberapa baik hasilnya. Model menjawab "bagaimana kita bekerja?", sedangkan standar menjawab "apa yang disebut hasil kerja yang baik?". Keduanya sering dianggap harus dipilih salah satu, padahal saling melengkapi.

Ketika Model Tanpa Standar

Banyak tim mahasiswa mengaku "pakai Agile", padahal praktiknya hanya rapat mingguan tanpa kriteria penerimaan, standar dokumentasi, atau pengujian yang jelas. Padahal Manifesto Agile hanya menempatkan perangkat lunak yang berfungsi di atas dokumentasi yang serba lengkap, bukan meniadakannya (Beck et al., 2001). Kajian Sujono dkk. (2020) tentang adopsi Agile di perguruan tinggi Indonesia dan evaluasi startup oleh Maghfirah dan Suranto (2023) menunjukkan pola serupa: model dipilih dengan cepat karena populer, tetapi standar mutunya jarang dievaluasi. Tanpa standar, model apa pun bisa menjadi kedok bagi ketidakdisiplinan.

Ketika Standar Tanpa Model yang Tepat

Sebaliknya, organisasi yang terlalu patuh pada standar dan prosedur kadang memaksakan alur kaku pada proyek yang kebutuhannya terus berubah. Hasilnya, dokumen tebal yang sudah usang sebelum produk rilis. Standar tanpa pemahaman tujuan berubah menjadi birokrasi, dan tim bekerja untuk memuaskan auditor, bukan pengguna. Kedua kegagalan ini punya akar sama: salah satu unsur dianggap cukup sehingga unsur lain diabaikan.

Standar sebagai Lantai, Model sebagai Jalan

Analogi paling sederhana adalah membangun rumah. Standar adalah aturan konstruksi seperti kekuatan struktur dan keamanan instalasi listrik. Model adalah cara tukang mengatur pekerjaan, berurutan atau bertahap per ruangan. Rumah dengan cara kerja terbaik pun tetap berbahaya jika melanggar standar struktur, dan rumah yang memenuhi standar tapi dikerjakan tanpa koordinasi akan molor dan membengkak biayanya. Dalam perangkat lunak, standar adalah lantai yang menjamin kualitas minimum, sementara model adalah jalan yang dipilih sesuai konteks (Sommerville, 2016). Proyek berisiko tinggi cocok dengan pendekatan berurutan yang ketat, sedangkan proyek yang kebutuhannya cepat berubah lebih cocok dengan iterasi pendek. Namun keduanya tetap perlu standar yang sama untuk kualitas kode, keamanan, dan pengujian (ISO/IEC, 2011).

Sebagai mahasiswa yang sering mengerjakan proyek kelompok, saya melihat pola berulang: model dipilih karena populer, lalu hasilnya berantakan. Sebelum bicara Scrum atau Kanban, tim bisa mulai dari pertanyaan sederhana seperti apa definisi "selesai" untuk sebuah fitur dan siapa yang meninjau kode, karena itu sudah bentuk standar paling dasar. Jadi, standar atau model? Pertanyaannya sendiri kurang tepat. Standar tanpa model akan kaku, dan model tanpa standar akan liar. Mulailah dari standar mutu yang jelas, baru pilih model yang paling cocok untuk membawa tim ke sana.

Daftar Pustaka

Beck, K., Beedle, M., van Bennekum, A., Cockburn, A., Cunningham, W., Fowler, M., ... Thomas, D. (2001). Manifesto for Agile software development. https://agilemanifesto.org

Boehm, B. W. (1988). A spiral model of software development and enhancement. Computer, 21(5), 61-72.

ISO/IEC. (2011). ISO/IEC 25010:2011 Systems and software engineering: Systems and software Quality Requirements and Evaluation (SQuaRE): System and software quality models. International Organization for Standardization.

ISO/IEC/IEEE. (2017). ISO/IEC/IEEE 12207:2017 Systems and software engineering: Software life cycle processes. International Organization for Standardization.

Maghfirah, A., & Suranto, B. (2023). Evaluasi adopsi metode Agile untuk proses perangkat lunak oleh tim startup di Indonesia. EDUSAINTEK: Jurnal Pendidikan, Sains dan Teknologi, 11(2), 570-587.

Pressman, R. S., & Maxim, B. R. (2020). Software engineering: A practitioner's approach (9th ed.). McGraw-Hill Education.

Royce, W. W. (1970). Managing the development of large software systems. Proceedings of IEEE WESCON, 26(8), 328-328.

Schwaber, K., & Sutherland, J. (2020). The Scrum Guide. https://scrumguides.org

Sommerville, I. (2016). Software engineering (10th ed.). Pearson Education.

Sujono, S., Setiawan, M. A., & Haryono, K. (2020). Tantangan adopsi Agile di perguruan tinggi di Indonesia. JUITA: Jurnal Informatika, 8(2), 197. https://doi.org/10.30595/juita.v8i2.7217