Detail Artikel

Ngoding Itu Gampang, Bikin Software Berkualitas yang Susah

MUHAMMAD RIZKI IBRAHIM (Mahasiswa) Dipublikasikan 08 October 2026
Ngoding Itu Gampang, Bikin Software Berkualitas yang Susah

Membuat program yang jalan itu mudah, tapi berkualitas itu tantangan. Kenali standar ISO/IEC 25010 sebagai peta mutu software.

Bagi mahasiswa Teknik Informatika, membuat program yang bisa jalan tidak terlalu sulit. Yang sulit adalah membuat program yang tetap bisa diandalkan ketika dipakai banyak orang. Bayangkan saat masa pengisian KRS tiba. Ribuan mahasiswa membuka sistem informasi akademik pada jam yang sama. Ada yang berhasil masuk dengan lancar, ada pula yang harus menunggu lama, bahkan sistem sempat tidak bisa diakses. Kejadian seperti ini adalah soal kualitas perangkat lunak, dan kualitas tidak bisa dibiarkan bergantung pada perasaan atau kebiasaan masing-masing pengembang. Karena itu dunia rekayasa perangkat lunak memiliki standar.

Mengapa Perangkat Lunak Butuh Standar?

Jaminan kualitas perangkat lunak (software quality assurance) adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan sepanjang siklus pengembangan agar produk akhir memenuhi kebutuhan pengguna, bukan hanya diperiksa di akhir proyek (Pressman & Maxim, 2019). Tanpa acuan yang disepakati, dua tim bisa punya definisi "bagus" yang sangat berbeda. Standar menetapkan apa yang harus diukur, bagaimana proses harus dijalankan, dan bukti apa yang perlu disimpan. Secara garis besar, standar dalam QA dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah standar produk, yaitu yang menjelaskan seperti apa perangkat lunak yang berkualitas. Kelompok kedua adalah standar proses, yaitu yang mengatur bagaimana perangkat lunak dikembangkan dan dikendalikan mutunya.

ISO/IEC 25010: Peta Kualitas Sebuah Produk

ISO/IEC 25010 adalah bagian dari keluarga SQuaRE. Edisi 2011 mendefinisikan delapan karakteristik kualitas produk (ISO/IEC, 2011). Edisi terbaru tahun 2023 memperbarui model ini menjadi sembilan karakteristik, antara lain dengan menambahkan safety, mengganti istilah usability menjadi interaction capability, dan portability menjadi flexibility (ISO/IEC, 2023). Agar mudah dipahami, berikut penjelasan sederhana delapan karakteristik versi 2011 beserta contohnya pada sistem informasi kampus.

  • Functional suitability (kesesuaian fungsi): fitur yang dibutuhkan tersedia dan hasilnya benar. Contohnya, nilai akhir mahasiswa dihitung sesuai bobot yang berlaku.
  • Performance efficiency (kinerja): aplikasi tetap cepat dan tidak boros sumber daya. Contohnya, portal tetap lancar saat ribuan mahasiswa mengisi KRS bersamaan.
  • Compatibility (kompatibilitas): aplikasi bisa bekerja bersama sistem lain. Contohnya, data mahasiswa nyambung antara SIAKAD dan e-learning.
  • Usability (kemudahan penggunaan): aplikasi mudah dipelajari dan nyaman dipakai. Contohnya, mahasiswa baru bisa mengisi KRS tanpa membaca panduan panjang.
  • Reliability (keandalan): aplikasi stabil dan bisa pulih saat terjadi gangguan. Contohnya, data tidak hilang meski sistem sempat mati.
  • Security (keamanan): data dan akses terlindungi. Contohnya, hanya dosen pengampu yang dapat mengubah nilai.
  • Maintainability (kemudahan perawatan): aplikasi mudah diperbaiki dan dikembangkan. Contohnya, perubahan aturan akademik tidak merusak fitur lain.
  • Portability (kemudahan dipindah): aplikasi bisa berjalan di berbagai lingkungan. Contohnya, tampilan tetap baik di berbagai peramban dan perangkat.

Nilai penting dari model ini adalah sifatnya sebagai daftar periksa yang lengkap. Tim sering hanya fokus pada fitur, lalu baru sadar ada masalah keamanan atau kinerja setelah aplikasi dipakai. Dengan model ini, setiap karakteristik dapat diturunkan menjadi target yang terukur, misalnya waktu respons maksimal, tingkat ketersediaan layanan, atau jumlah cacat per modul.

Standar Proses yang Melengkapi

Beberapa standar dan model proses yang lazim dipelajari dalam QA antara lain:

  • IEEE 730-2014 mengatur proses jaminan kualitas perangkat lunak, mulai dari perencanaan, audit, hingga pelaporan ketidaksesuaian (IEEE, 2014).
  • ISO/IEC/IEEE 12207 mendefinisikan proses-proses dalam siklus hidup perangkat lunak sehingga setiap tahap punya tanggung jawab yang jelas (ISO/IEC/IEEE, 2017).
  • ISO 9001:2015 adalah standar sistem manajemen mutu yang bersifat umum dan dapat diterapkan pada organisasi pengembang perangkat lunak (ISO, 2015).
  • CMMI adalah model kematangan proses yang membantu organisasi menilai dan meningkatkan kemampuan pengembangannya secara bertahap (CMMI Product Team, 2010).

Keempatnya saling melengkapi. ISO/IEC 25010 menjawab pertanyaan "produk seperti apa yang kita tuju", sedangkan standar proses menjawab pertanyaan "bagaimana kita memastikan sampai kesana".

Referensi

CMMI Product Team. (2010). CMMI for Development, Version 1.3 (CMU/SEI-2010-TR-033). Pittsburgh: Software Engineering Institute, Carnegie Mellon University.

IEEE. (2014). IEEE Std 730-2014: IEEE Standard for Software Quality Assurance Processes. NewYork: IEEE.

ISO. (2015). ISO 9001:2015 Quality management systems: Requirements. Geneva: International Organization for Standardization.

ISO/IEC. (2011). ISO/IEC 25010:2011 Systems and software engineering: Systems and software Quality Requirements and Evaluation (SQuaRE): System and software quality models. Geneva: ISO/IEC.

ISO/IEC. (2023). ISO/IEC 25010:2023 Systems and software engineering: Systems and software Quality Requirements and Evaluation (SQuaRE): Product quality model. Geneva: ISO/IEC.

ISO/IEC/IEEE. (2017). ISO/IEC/IEEE 12207:2017 Systems and software engineering: Software life cycle processes. Geneva: ISO/IEC/IEEE.

Pressman, R. S., & Maxim, B. R. (2019). Software Engineering: A Practitioner's Approach (9th ed.). New York: McGraw-Hill Education.

Sommerville, I. (2016). Software Engineering (10th ed.). Harlow: Pearson Education.