Menemukan ‘Harta Karun’ Tersembunyi: Tiga Koleksi Langka di Pusdok-Q LPMQ yang Menyimpan Sejarah Dunia
Pusdok-Q LPMQ menyimpan tiga koleksi langka bersejarah: mushaf pemberian negara non-muslim, suvenir Presiden Soeharto, dan Al-Qur'an Belanda milik Ali Sastroamidjojo.
Menemukan ‘Harta Karun’ Tersembunyi: Tiga Koleksi Langka di Pusdok-Q LPMQ yang Menyimpan Sejarah Dunia
JAKARTA – Banyak orang mengira perpustakaan hanyalah tempat tumpukan buku berdebu. Namun, anggapan itu langsung sirna saat menjejakkan kaki di Pusat Dokumentasi Al-Qur’an (Pusdok-Q) LPMQ di Jalan TMII No. 122, Ceger, Kecamatan Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Ruangan tenang ini menyimpan berbagai peninggalan berharga yang merekam perjalanan sejarah Islam di Nusantara hingga kancah global.
"Di dalam Pusdok-Q LPMQ ini, bisa dikatakan menyimpan harta karun yang indah, sayang sekali jika tidak diperkenalkan pada publik," ujar Bapak Heri, Pustakawan Ahli Muda di LPMQ. Pernyataan ini menggambarkan kayanya arsip yang siap disingkap oleh masyarakat luas. Di antara ribuan literatur, ada tiga koleksi paling memukau:
Al-Qur’an dari Negeri "Tak Terduga"
Koleksi pertama hadir dari ajang Festival Istiqlal I dan II pada tahun 1991 dan 1995 yaitu festival Islam terbesar di Asia pada masanya, Arsip Majalah Tempo mencatat yang datang pada festival tersebut berjumlah 6 hingga 11jt pengunjung. Uniknya, mushaf-mushaf ini dihibahkan oleh negara-negara berpenduduk mayoritas non-muslim. Kehadirannya menjadi bukti nyata bagaimana toleransi global dan dialog antarperadaban mampu menembus batas geografis serta keyakinan.
Cinderamata Kenegaraan Presiden Soeharto
Selanjutnya, terdapat Al-Qur’an souvenir dari Kerajaan Yordania. Mushaf istimewa ini merupakan hadiah resmi bagi Presiden Soeharto saat berkunjung ke sana. Sentuhan seni khas Timur Tengah yang megah pada sampulnya memperlihatkan bagaimana kitab suci kerap menjadi simbol penghormatan tertinggi dalam diplomasi antarnegara.
Jejak Sang Perdana Menteri, Ali Sastroamidjojo
Harta karun ketiga punya tautan langsung dengan Perdana Menteri ke-8 dan ke-10 Indonesia, Ali Sastroamidjojo (1903-1975). Berupa mushaf berbahasa Belanda edisi ketiga terbitan 1916, buku ini semakin istimewa karena dihiasi tanda tangan asli beliau. Naskah ini membuktikan kedekatan spiritual para tokoh bangsa di tengah gelora kemerdekaan.
Menyaksikan lembaran kertas tua yang menguning dan guratan tinta masa lalu memberikan pengalaman batin tersendiri. Semua koleksi ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu sejarah peradaban manusia yang melintasi zaman. Pihak pengelola berharap koleksi langka ini tidak sekedar menjadi arsip internal, melainkan semakin dikenal luas oleh generasi muda. Bagi Anda yang ingin merasakan perjalanan spiritual dan intelektual menyentuh akar peradaban Islam, pintu Pusdok-Q LPMQ terbuka lebar untuk umum.