Detail Artikel

Dari Proses hingga Produk: Mengapa Standarisasi Menentukan Kualitas Perangkat Lunak

MAULIDINA NAURAH SALSABILA (Mahasiswa) Dipublikasikan 08 October 2026
Dari Proses hingga Produk:  Mengapa Standarisasi Menentukan Kualitas Perangkat Lunak

Saat ini, perangkat lunak telah menjadi bagian penting dalam berbagai organisasi, baik perusahaan maupun perguruan tinggi. Ketergantungan yang semakin tinggi terhadap sistem informasi membuat kualitas perangkat lunak menjadi hal yang perlu diperhatikan. Perangkat lunak yang berkualitas rendah tidak hanya menghambat aktivitas pengguna, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian finansial, merusak reputasi, dan meningkatkan risiko keamanan data (Suhartono & Sukriyah, 2025).

Namun, kualitas perangkat lunak sering kali masih dinilai secara informal. Keberhasilan sistem terkadang bergantung pada kemampuan individu atau pengalaman tim tertentu. Menurut saya, organisasi membutuhkan cara yang lebih terstruktur untuk menilai apakah proses pengembangan dan produk yang dihasilkan sudah berjalan dengan baik. Di sinilah standarisasi berperan penting. Standar seharusnya tidak dipandang sebagai aturan yang memperumit pekerjaan, melainkan sebagai alat untuk memberikan arah, ukuran, dan dasar evaluasi.

Kualitas perangkat lunak sebenarnya sudah mulai dibentuk sejak proses pengembangannya. Jika proses dilakukan tanpa perencanaan yang jelas, kemungkinan munculnya masalah pada produk akan semakin besar. CMMI-Dev dapat digunakan untuk melihat tingkat kematangan proses pengembangan, mulai dari proses yang masih belum teratur hingga proses yang telah dioptimalkan secara berkelanjutan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penerapan CMMI-Dev membantu organisasi mengetahui kondisi proses yang sedang dijalankan (Frangky, 2022; Susanti dkk., 2025). Menurut saya, tujuan utama CMMI-Dev bukanlah mengejar level setinggi mungkin. Yang lebih penting adalah kemampuannya menunjukkan bagian mana yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Dengan demikian, organisasi memiliki dasar yang lebih jelas dalam mengambil keputusan perbaikan.

Selain proses, kualitas produk juga perlu diperhatikan. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap perangkat lunak sudah berkualitas hanya karena fitur yang dibutuhkan tersedia. Padahal, pengguna juga membutuhkan sistem yang mudah digunakan, cepat, aman, dan dapat diandalkan. Karena itu, ISO/IEC 25010 menjadi penting karena menyediakan kerangka untuk menilai kualitas perangkat lunak dari berbagai aspek (Mulyawan dkk., 2021).

Menurut saya, kualitas perangkat lunak tidak cukup dinilai dari tampilan atau fungsi yang terlihat secara langsung. Sebuah aplikasi mungkin memiliki banyak fitur, tetapi jika lambat digunakan atau sulit dipahami, kualitasnya tetap perlu dipertanyakan. Hal yang sama berlaku pada keamanan. Sistem dapat terlihat berjalan normal, tetapi jika perlindungan datanya lemah, pengguna tetap berisiko mengalami kerugian. Oleh karena itu, penilaian kualitas perlu dilakukan dari berbagai sudut pandang, baik dari sisi pengguna maupun pengembang.

Menurut saya, tantangan terbesar dalam penerapan standar bukan terletak pada keberadaan standarnya, melainkan pada bagaimana standar tersebut digunakan. Organisasi dapat memiliki banyak dokumen, prosedur, dan hasil evaluasi, tetapi kualitas belum tentu meningkat jika semuanya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan administrasi. Menurut saya, standar seharusnya membantu menjawab pertanyaan sederhana: apa yang sudah baik, apa yang masih bermasalah, dan apa yang perlu diperbaiki.

Karena itu, hasil evaluasi perlu dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan. Jika proses pengembangan belum konsisten, organisasi dapat memperbaiki prosedurnya. Jika masalah ditemukan pada aspek usability, maka perhatian dapat difokuskan pada pengalaman pengguna.

Pada akhirnya, CMMI-Dev dan ISO/IEC 25010 merupakan dua pendekatan yang saling melengkapi. CMMI-Dev berfokus pada proses pengembangan, sedangkan ISO/IEC 25010 berfokus pada kualitas produk yang dihasilkan. Menurut saya, kualitas perangkat lunak yang baik tidak hanya ditentukan oleh produk akhirnya, tetapi juga oleh proses yang digunakan untuk membuatnya. Standar bukan sekadar aturan yang harus dipenuhi, melainkan alat untuk membantu organisasi melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

Referensi:

Frangky. (2022). Measuring the maturity level of the organization in the process software development using the CMMI-Dev method. Paradigma, 24(2), 108–116. https://doi.org/10.31294/p.v24i2.1358

Mulyawan, M. D., Kumara, I. N. S., Swamardika, I. B. A., & Saputra, K. O. (2021). Kualitas sistem informasi berdasarkan ISO/IEC 25010: Literature review. Majalah Ilmiah Teknologi Elektro, 20(1), 15–27. https://doi.org/10.24843/MITE.2021.v20i01.P02

Suhartono, B., & Sukriyah. (2025). Evaluasi kualitas perangkat lunak dengan menggunakan ISO 25010: Studi kasus aplikasi audit manajemen sistem. Jurnal IPSIKOM, 13(1), 1–8. https://doi.org/10.58217/ipsikom.v13i1.60

Susanti, E., Buwono, R. C., & Noviyanti. (2025). Implementasi CMMI untuk penilaian maturity level perangkat lunak pada aplikasi di UTDI. Jurnal Sisfotenika, 15(1), 12–22. https://doi.org/10.30700/sisfotenika.v15i1.518