Mengapa Standar dan Model Mutlak Diperlukan dalam Rekayasa Perangkat Lunak?
Siapa yang mungkin pernah ada yang bertanya-tanya mengapa sebuah perangkat lunak jarang sekali dijamin 100% bebas dari bug oleh pembuatnya? Beda dengan pabrikan mobil atau mesin cuci yang berani dan bersedia memberi garansi fisik produk pada para konsumennya, para pengembang perangkat lunak biasanya akan menambah klausul sendiri bahwa mereka tidak menjamin produk yang mereka ciptakan bisa sangat terbebas dari error.
Di Software Quality Assurance From Theory to Implementation karya Daniel Galin, sebuah perangkat lunak bisa saja dapat memiliki karakteristik unik yang membuatnya jauh lebih kompleks dibandingkan produk industri fisik yang ada. Pada produk fisik kerusakannya bisa saja dilihat secara kasat mata selama proses perakitan, namun software bersifat tak kasat mata, yang membuat kecacatannya perlu dideteksi pada fase pengembangannya yang melalui banyak tes. Ada banyak kemungkinan kombinasi operasional di dalam kode yang membuat pendeteksian kesalahannya bisa saja menjadi tantangan yang luar biasa berat.
Karena ada keunikan dan kompleksitas itu, pendekatan menggunakan cara trial and error tidak bisa diandalkan. Dimomen dan titik inilah penerapan standar dan model Software Quality Assurance atau SQA bisa menjadi mutlak diperlukan. Jadi SQA bukanlah sekadar kontrol kualitas yang pasif mengecek produk di akhir siklus, tapi serangkaian aktivitas sistematis dan terencana yang perlu diterapkan di seluruh tahapan pengembangan untuk mencegah munculnya error sejak awal. SQA ini yang memastikan proses pengembangan hingga pemeliharaan mematuhi standar manajerial dan persyaratan teknis.
Penerapan standar dan model rekayasa perangkat lunak seperti standar ISO, standar IEEE, atau model CMMI berfungsi sebagai jaring pengaman dan peta jalan yang jelas. Distandar ini yang memberikan pedoman evaluasi secara objektif, mulai dari tinjauan kontrak lalu ada pengujian, hingga pemeliharaan jangka panjang, agar potensi miskomunikasi antara kebutuhan pelanggan dan implementasi developer dapat diminimalkan.
Jadi para pengembang perlu menyadari bahwa software bisa memiliki sifat-sifat yang kompleks sekali dan rentan juga terhadap kegagalan merupakan langkah awal yang penting. Karena langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh setiap para organisasi pengembang adalah mematuhi standar dan model jaminan kualitas yang ada dan telah teruji. Tanpa adanya pedoman standar tersebut, organisasi hanya akan kocar-kacir untuk terus-menerus memangatasi "masalah" yang seharusnya bisa saja dicegah sejak lama. Makanya, penerapan standar dan model dalam pengembangan perangkat lunak ini adalah sebuah langkah investasi penting demi kelangsungan dan kualitas produk digital.
Sumber Referensi:
Galin, D. (2004). Software Quality Assurance From Theory to Implementation. Pearson Addison Wesley.