Detail Artikel

Dari Standar hingga Praktik: Bagaimana Startup Besar Menjaga Kualitas Software

FERDYANO SURYA DYNATA (Mahasiswa) Dipublikasikan 08 October 2026
Dari Standar hingga Praktik: Bagaimana Startup Besar Menjaga Kualitas Software

Startup besar menerapkan standar kualitas software lewat otomasi pengujian, target keandalan, dan uji ketahanan agar layanan tetap berkualitas

Coba ingat kapan terakhir kali kita memesan ojek lewat aplikasi, lalu membayarnya dengan dompet digital. Semuanya selesai dalam beberapa menit, dan hampir tidak ada yang bertanya-tanya apa yang bekerja di baliknya. Padahal aplikasi seperti itu dipakai jutaan orang di saat yang sama, dan fiturnya terus diperbarui. Kalau kualitasnya tidak dijaga, satu kesalahan kecil saja bisa langsung terasa oleh banyak orang. Lalu bagaimana perusahaan-perusahaan besar ini menjaganya? Sebagian jawabannya ada pada standar kualitas software.

Sebenarnya, Standar Kualitas Software Itu Apa?

Sederhananya, standar kualitas software adalah patokan bersama untuk menilai dua hal: apakah perangkat lunak yang dibuat sudah layak, dan apakah cara membuatnya sudah benar. Karena itu ada standar yang melihat hasil akhirnya, ada pula yang melihat prosesnya.

Untuk hasil akhir, rujukan yang paling sering dipakai adalah ISO/IEC 25010. Standar ini membagi kualitas ke dalam delapan sisi, yaitu kesesuaian fungsional, efisiensi kinerja, kompatibilitas, kebergunaan (usability), keandalan, keamanan, pemeliharaan, dan portabilitas. Untuk proses, ada CMMI yang menilai seberapa matang cara kerja sebuah organisasi, dan ISO/IEC 27001 yang mengatur pengelolaan keamanan informasi.

Standar-standar ini lebih mirip kerangka berpikir daripada aturan kaku. Cara menerapkannya sehari-hari berbeda di setiap perusahaan, dan di startup biasanya dibuat lebih ringkas supaya tidak menghambat kerja tim.

Cepat, tapi Tidak Boleh Ceroboh

Startup yang sudah besar punya dilema yang khas. Mereka harus terus meluncurkan fitur baru supaya tidak tertinggal pesaing, tetapi gangguan sekecil apa pun bisa mengenai jutaan pengguna, apalagi kalau menyangkut transaksi uang. Hasilnya, kualitas jarang diurus lewat tumpukan dokumen yang baru diperiksa di akhir proyek. Ia dibangun langsung ke dalam cara kerja sehari-hari. Ada setidaknya empat kebiasaan yang menonjol:

  • Pengujian Terotomatisasi (Automated Testing)

Menguji puluhan fitur secara manual setiap hari tentu tidak efisien. Perusahaan teknologi memanfaatkan pengujian terotomatisasi menggunakan alat seperti Appium, Selenium, dan TestNG yang diintegrasikan ke dalam pipeline CI/CD (seperti Jenkins atau GitLab). Peran Software Development Engineer in Test (SDET) fokus menulis kode untuk menguji sistem secara otomatis.

  • Keterlibatan Tim QA Sejak Awal

Tim Quality Assurance (QA) tidak lagi bekerja di akhir siklus pengembangan. Mereka terlibat sejak tahap perancangan produk bersama product manager dan pengembang untuk menentukan kriteria penerimaan (acceptance criteria). Menemukan potensi bug saat desain jauh lebih murah dibandingkan memperbaikinya setelah dirilis.

  • Keandalan Dijadikan Angka

Kata "andal" gampang diucapkan tapi sulit diukur. Google mengatasinya dengan Service Level Objective (SLO), yakni target terukur, misalnya 99,9 persen permintaan pengguna harus berhasil dilayani. Selisih antara target itu dan angka sempurna disebut error budget. Pada target 99,9 persen selama 30 hari, artinya sistem masih boleh gangguan sekitar 43 menit. Selama jatah itu belum habis, tim bebas merilis fitur baru. Begitu habis, perhatian dialihkan untuk membenahi keandalan dulu. Dengan begitu, perdebatan antara tim yang ingin cepat dan tim yang ingin aman bisa diselesaikan lewat angka yang sudah disepakati.

  • Sengaja Merusak Sistem Sendiri

Yang ini terdengar aneh, tetapi Netflix melakukannya dan menyebutnya chaos engineering. Idenya adalah bereksperimen pada sistem terdistribusi untuk membangun keyakinan bahwa sistem sanggup bertahan saat kondisi tidak ideal di lingkungan produksi. Salah satu alatnya, Chaos Monkey, dirancang untuk mematikan server produksi secara acak. Tujuannya membuat para insinyur terbiasa membangun sistem yang bisa pulih sendiri. Dari sini terlihat bahwa kualitas tidak cukup diartikan sebagai "tidak ada bug". Kualitas juga berarti sistem tetap jalan ketika sebagian komponennya gagal.

Pembelajaran untuk Skala Kecil

Keempat praktik di atas pada dasarnya mencerminkan prinsip keandalan dan pemeliharaan dalam ISO/IEC 25010. Sebagai mahasiswa atau pengembang independen, konsep ini bisa diterapkan langsung pada proyek pribadi: menulis unit test, melakukan code review via Git, menggunakan repositori terbuka untuk otomasi CI/CD, serta mencatat alur pengujian secara terstruktur.

Kecepatan rilis dan kualitas perangkat lunak bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya bisa berjalan sejajar ketika kualitas dipikirkan dan dibangun sejak baris kode pertama

Daftar Pustaka

Basiri, A., Behnam, N., de Rooij, R., Hochstein, L., Kosewski, L., Reynolds, J., & Rosenthal, C. (2016). Chaos engineering. IEEE Software, 33(3), 35–41.

Beyer, B., Jones, C., Petoff, J., & Murphy, N. R. (Eds.). (2016). Site reliability engineering: How Google runs production systems. O'Reilly Media.

InfoQ. (2015, September). Netflix' principles of chaos engineering.

Izrailevsky, Y., & Tseitlin, A. (2011, Juli). The Netflix Simian Army. Netflix Technology Blog.