Detail Artikel

TIM WANALA UNAIR IKUT ANDIL DALAM PELATIHAN SAR YANG DISELENGGARAKAN OLEH SAR SURABAYA: GLADIAN JUNGLE RESCUE 2026

JAISYUL 'USRAH (Mahasiswa) Dipublikasikan 21 October 2026
TIM WANALA UNAIR IKUT ANDIL DALAM PELATIHAN SAR YANG DISELENGGARAKAN OLEH SAR SURABAYA: GLADIAN JUNGLE RESCUE 2026

WANALA UNAIR mengikuti Gladian Jungle Rescue 2026 untuk meningkatkan keterampilan SAR, kerja sama tim, dan kesiapsiagaan di alam

SURABAYA — 

 Lima anggota Mahasiswa Pencinta Alam WANALA Universitas Airlangga (UNAIR) mengikuti kegiatan pelatihan Gladian Jungle Rescue yang diselenggarakan oleh SAR Surabaya pada September 2026 di kawasan Gunung Pundak. Kelima anggota tersebut adalah M. Rizqi, Nur Alif, Jaisyul, Pramudya Airen, dan Nur Fikri. Keikutsertaan mereka menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan teknis, serta kesiapan dalam menghadapi situasi pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR), khususnya di lingkungan hutan dan gunung.

Kegiatan ini dirancang sebagai wadah pembelajaran bagi peserta yang memiliki ketertarikan terhadap dunia SAR. Pelatihan ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai konsep dasar pencarian dan pertolongan, tetapi juga mendorong peserta untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut melalui praktik lapangan. Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan berbagai materi, meliputi Navigasi Darat, Manajemen SAR, E-SAR, pertolongan pertama, Vertical Rescue, serta manajemen komunikasi. Materi-materi tersebut menjadi bekal penting untuk memahami tahapan operasi SAR, mulai dari perencanaan, pelaksanaan pencarian, koordinasi antar tim, hingga proses evakuasi korban.

Salah satu bagian utama dalam pelatihan ini adalah simulasi operasi pencarian korban hilang. Dalam skenario yang telah disusun, peserta dihadapkan pada laporan hilangnya seorang korban bernama Reno yang diceritakan mengalami kecelakaan ketika melakukan trail run bersama temannya di jalur pendakian. Korban disimulasikan mengalami cedera kaki dengan perbekalan yang terbatas. Reno merupakan korban fiktif dalam skenario latihan, sehingga seluruh rangkaian pencarian dan pertolongan dilaksanakan sebagai bagian dari simulasi pelatihan. Simulasi tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam menghadapi situasi yang menyerupai kondisi operasi SAR di lapangan. Peserta dituntut untuk menyusun strategi pencarian, memahami kondisi medan, mengelola informasi, serta menentukan langkah yang tepat berdasarkan situasi yang dihadapi. Kondisi tersebut juga menguji kemampuan peserta dalam menjaga koordinasi dan komunikasi agar setiap tahapan operasi dapat berjalan secara terarah.

Tantangan semakin terasa karena kegiatan berlangsung pada musim kemarau, ketika ketersediaan air di kawasan pencarian sangat terbatas. Dalam proses penelusuran, sumber air yang didatangi peserta bahkan ditemukan dalam kondisi kering. Situasi ini menjadi salah satu tantangan lapangan yang harus diperhitungkan selama pelaksanaan operasi. Keterbatasan sumber air dan perbekalan menambah kompleksitas simulasi sekaligus mengingatkan peserta akan pentingnya pengelolaan sumber daya, perencanaan logistik, serta pertimbangan keselamatan selama menjalankan operasi di alam terbuka. Rangkaian kegiatan pencarian berlangsung selama tiga hari dengan pembagian peserta ke dalam empat tim. Pembagian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun koordinasi dan kerja sama dalam operasi pencarian. Setiap tim perlu memahami perannya serta menjalin komunikasi dengan tim lain agar informasi yang diperoleh selama proses pencarian dapat mendukung pengambilan keputusan. Melalui pembagian tugas dan koordinasi tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai pentingnya sistem kerja yang terorganisasi dalam pelaksanaan operasi SAR.

Tantangan berikutnya muncul ketika proses evakuasi harus direncanakan untuk korban yang ditemukan di lokasi di atas curug atau air terjun. Kondisi medan tersebut membutuhkan pertimbangan teknis dan perencanaan yang matang agar proses pemindahan korban dapat dilakukan dengan memperhatikan keselamatan. Dalam tahap ini, peserta berkolaborasi dengan Vertical Rescue Indonesia untuk merancang jalur instalasi yang diperlukan dalam proses evakuasi. Peserta didorong untuk memikirkan alternatif penanganan sesuai dengan kondisi medan, sekaligus menerapkan materi Vertical Rescue yang telah dipelajari. Keterlibatan berbagai pihak dalam pelatihan ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi dan bekerja sama dengan individu dari latar belakang instansi yang berbeda. Para peserta memiliki kesamaan minat untuk mempelajari keterampilan SAR di lingkungan hutan dan gunung, meskipun berasal dari latar belakang yang beragam. Pengalaman tersebut menjadi ruang untuk bertukar pengetahuan, membangun komunikasi, dan memahami pentingnya kolaborasi dalam menghadapi situasi darurat.

Bagi lima anggota WANALA UNAIR, keikutsertaan dalam Gladian Jungle Rescue menjadi pengalaman pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan teknis. Pelatihan ini juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi lapangan. Tantangan selama simulasi memperlihatkan bahwa keberhasilan operasi SAR tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada koordinasi, komunikasi, dan kerja sama seluruh unsur yang terlibat.

Melalui pelaksanaan simulasi selama tiga hari, peserta berhasil membangun kerja sama dalam membentuk tim evakuasi yang terkoordinasi. Keikutsertaan anggota WANALA dalam Gladian Jungle Rescue 2026 diharapkan dapat menjadi bekal untuk terus mengembangkan kompetensi di bidang kepencintaalaman dan keselamatan berkegiatan di alam terbuka. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapan anggota dalam menghadapi berbagai kondisi lapangan, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya prosedur keselamatan, koordinasi, dan kerja sama dalam kegiatan pencarian dan pertolongan di hutan dan gunung.