Inovasi Selai Pisang Kitiran Optimalkan Pemanfaatan Pisang Lokal Kampung Adat Segunung, oleh HIMA D4 Manajemen Perhotelan
Mahasiswa D-IV Manajemen Perhotelan UNAIR memperkenalkan Selai Pisang Kitiran, produk inovasi UMKM warga Kampung Adat Segunung, Minggu (12/7/2026)(Foto: Pdd binkom)
UNAIR NEWS – Tidak semua hasil perkebunan memiliki nilai jual yang optimal apabila hanya dipasarkan dalam bentuk segar atau diolah secara sederhana. Kondisi tersebut juga ditemui pada pisang kitiran, salah satu komoditas lokal Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, yang selama ini belum banyak dimanfaatkan karena memiliki cita rasa sedikit asam. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi D-IV Manajemen Perhotelan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) memperkenalkan inovasi Selai Pisang Kitiran melalui Program Bina Komunitas (BINKOM) bertajuk TOURISMATRIX pada 12 Juli 2026 di Griya Asri Food.
Kegiatan yang diikuti oleh ibu rumah tangga dan pelaku UMKM ini dikemas dalam bentuk demonstrasi serta praktik pengolahan produk. Peserta diajak mengenal proses pembuatan selai sekaligus memahami bagaimana komoditas lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Pemilik Griya Asri Food, Bu Ani, menjelaskan bahwa pisang kitiran sebenarnya sangat melimpah di Kampung Adat Segunung. Namun, buah tersebut belum banyak diolah karena cita rasanya cenderung asam apabila dijadikan gorengan atau keripik sehingga nilai jualnya masih relatif rendah.
"Pisang kitiran di Kampung Adat Segunung jumlahnya sangat banyak, tetapi belum banyak yang mengolahnya karena rasanya cenderung sepat jika hanya digoreng atau dijadikan keripik. Nilai jualnya juga masih rendah. Selai menjadi salah satu alternatif olahan yang lebih menarik. Selain itu, anak-anak yang biasanya kurang menyukai buah juga bisa mengkonsumsinya dalam bentuk olahan yang lebih disukai," ujar Bu Ani.
Dilihat dari kondisi tersebut, mahasiswa mengembangkan Selai Pisang Kitiran sebagai alternatif olahan yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Selain memiliki cita rasa yang lebih mudah diterima berbagai kalangan, selai ini juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pelengkap aneka produk kuliner maupun dijadikan salah satu oleh-oleh khas Kampung Adat Segunung.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui transfer pengetahuan mengenai inovasi pengolahan pangan kepada masyarakat, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan produk berbasis potensi lokal yang bernilai tambah, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pemberdayaan sumber daya desa dalam mendukung pengembangan desa wisata yang berkelanjutan.
Selama praktik berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan selai, mulai dari proses pengolahan bahan hingga teknik penyajian. Diskusi juga berkembang mengenai peluang pengemasan, penentuan harga, serta strategi pemasaran agar produk dapat dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan UMKM Kampung Adat Segunung.
Melalui inovasi Selai Pisang Kitiran, mahasiswa berharap komoditas yang sebelumnya kurang diminati dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Inovasi ini diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, memperkuat daya saing UMKM, sekaligus menambah ragam produk khas yang mendukung pengembangan Kampung Adat Segunung sebagai desa wisata berbasis potensi lokal.
Program Studi: D-IV Manajemen Perhotelan, Fakultas Vokasi Universitas Airlangga