Dari Potensi Laut Menuju Kemandirian Ekonomi, TAWSEC FEB UNAIR Berdayakan Masyarakat Pesisir Banyusangka
TAWSEC FEB UNAIR resmi dimulai melalui sosialisasi SDGs untuk mendorong pemberdayaan masyarakat pesisir dan kemandirian ekonomi Desa Banyusangka melalui UMKM
Bangkalan, 3 Agustus 2026 Tim mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) resmi memulai Program TAWSEC (Transformasi Ekonomi Pesisir melalui Sinergi Aksi Mandiri) melalui kegiatan Sosialisasi Program SDGs dan pengenalan TAWSEC kepada masyarakat Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, pada Senin (3/8/2026).
Kegiatan ini menjadi tahap awal implementasi TAWSEC yang memperoleh dukungan pendanaan melalui Program SDGs SustainAction. Sosialisasi dihadiri oleh [jumlah peserta] peserta yang terdiri atas perangkat desa, tokoh masyarakat, kelompok nelayan, serta ibu-ibu pelaku aktivitas ngojur di Desa Banyusangka.
Program TAWSEC hadir sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat pesisir dengan memanfaatkan potensi lokal, khususnya hasil perikanan, untuk meningkatkan nilai tambah dan membuka peluang pengembangan usaha masyarakat. Dalam pelaksanaannya, program ini berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat agar tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki kemampuan dalam mengelola, memasarkan, dan mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan sosialisasi, tim mahasiswa memperkenalkan Program SDGs SustainAction sebagai program pendanaan yang mendukung berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Selanjutnya, masyarakat diperkenalkan dengan konsep, tujuan, tahapan, serta rangkaian kegiatan TAWSEC yang akan dilaksanakan secara bertahap.
TAWSEC memiliki empat pilar utama, yaitu Pilar Produksi Berkelanjutan, Pilar Kewirausahaan dan Manajemen, Pilar Digitalisasi dan Branding, serta Pilar Legalitas dan Keberlanjutan. Keempat pilar tersebut dirancang sebagai rangkaian pendampingan untuk membantu masyarakat mengoptimalkan potensi hasil perikanan, mengembangkan produk bernilai tambah, meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha, memperluas pemasaran, serta memperkuat aspek legalitas dan keberlanjutan usaha.
Di sisi lain, masyarakat Desa Banyusangka masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan potensi ekonomi pesisir. Tantangan tersebut antara lain keterbatasan pengolahan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah, pemasaran produk yang masih perlu diperluas, serta kebutuhan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan usaha. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan TAWSEC agar pendampingan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
Ketua TAWSEC, Puguh, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan produk, tetapi juga pada proses membangun kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
“TAWSEC kami rancang bukan sekadar untuk membantu masyarakat menghasilkan produk, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengelola dan mengembangkan potensi yang dimiliki secara mandiri. Harapannya, setiap proses yang dilakukan dapat memberikan nilai tambah bagi hasil perikanan sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Banyusangka,” ujar Puguh.
Selain pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif bersama masyarakat. Diskusi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menyampaikan potensi, kendala, dan kebutuhan yang mereka hadapi dalam mengembangkan usaha berbasis hasil perikanan. Beberapa aspek yang dibahas meliputi pengolahan hasil laut, pemasaran produk, serta kebutuhan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menjalankan usaha.
Masukan yang diperoleh melalui diskusi menjadi bahan bagi tim mahasiswa dalam menyusun kegiatan pendampingan pada tahapan berikutnya. Dengan demikian, rangkaian program TAWSEC tidak hanya disusun berdasarkan konsep yang telah dirancang, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masyarakat Desa Banyusangka.
Kegiatan sosialisasi memberikan dampak awal berupa meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai Program SDGs SustainAction dan TAWSEC, terbukanya ruang komunikasi antara mahasiswa dan masyarakat, serta teridentifikasinya potensi dan permasalahan yang menjadi dasar pelaksanaan pendampingan selanjutnya. Masyarakat juga memperoleh gambaran mengenai rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan melalui empat pilar TAWSEC.
Melalui pelaksanaan program ini, tim mahasiswa FEB UNAIR bersama masyarakat Desa Banyusangka membangun kolaborasi untuk mendorong pemberdayaan ekonomi pesisir, peningkatan nilai tambah hasil perikanan, penguatan kapasitas pelaku UMKM, serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal secara berkelanjutan. Program TAWSEC sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian SDGs, khususnya SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDGs 14 (Ekosistem Laut), dan SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).