Detail Artikel

TAWSEC FEB UNAIR Ubah Potensi Ikan Tongkol Menjadi Peluang Usaha Berbasis Zero Waste

CYNTHIA SAPHIRA PUTERI (Mahasiswa) Dipublikasikan 19 August 2026
TAWSEC FEB UNAIR Ubah Potensi Ikan Tongkol Menjadi Peluang Usaha Berbasis Zero Waste

TAWSEC FEB UNAIR melatih 15 warga Banyusangka mengolah ikan tongkol menjadi abon, amplang, dan pakan hewan berbasis zero waste berkelanjutan.

TAWSEC FEB UNAIR melatih 15 warga Banyusangka mengolah ikan tongkol menjadi abon, amplang, dan pakan hewan berbasis zero waste.

Semangat pemberdayaan ekonomi pesisir mewarnai kegiatan tim mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura. Kegiatan yang berlangsung pada 4–6 Agustus 2026 ini merupakan implementasi program TAWSEC (Transformasi Ekonomi Pesisir melalui Sinergi Aksi Mandiri) yang digagas mahasiswa FEB UNAIR untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir, khususnya perempuan pelaku aktivitas ngojur.

Selama tiga hari, kegiatan berfokus pada Pilar Produksi Berkelanjutan, salah satu dari empat pilar utama TAWSEC yang bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan ikan melalui inovasi pengolahan berbasis zero waste. Kegiatan diikuti 15 masyarakat Desa Banyusangka, khususnya ibu-ibu pelaku aktivitas ngojur. Selain memperoleh keterampilan pengolahan produk, peserta juga diarahkan membentuk kelompok usaha sebagai wadah pengembangan dan keberlanjutan usaha setelah pendampingan berakhir.

Selama ini, sebagian hasil tangkapan nelayan masih dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif tidak stabil. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi ikan melalui diversifikasi produk. Karena itu, TAWSEC memberikan keterampilan pengolahan ikan tongkol menjadi produk bernilai tambah, lebih beragam, dan berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas.

Pada hari pertama, Selasa (04/08/2026), peserta mengikuti pelatihan dan praktik pembuatan abon ikan tongkol, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan daging ikan, hingga pengemasan. Hari kedua, Rabu (05/08/2026), kegiatan berlanjut dengan pembuatan amplang ikan tongkol sebagai bentuk diversifikasi produk berbasis potensi lokal. Sementara pada hari ketiga, Kamis (06/08/2026), peserta belajar mengolah tulang ikan menjadi pakan hewan sebagai penerapan prinsip zero waste, sehingga bagian ikan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali.

Inovasi tersebut memberikan pendekatan baru dalam pemanfaatan ikan tongkol. Ikan tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang dijual segar, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk turunan. Pengolahan menjadi abon dan amplang dapat memperpanjang masa pemanfaatan, menciptakan variasi produk, serta meningkatkan nilai jual. Di sisi lain, pemanfaatan tulang ikan menjadi pakan hewan menunjukkan upaya menciptakan nilai ekonomi dari bagian ikan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pelatihan, terutama ketika peserta terlibat langsung dalam setiap tahapan pengolahan dan menyesuaikan cita rasa produk. Ririn, selaku Penanggung Jawab Pilar Produksi Berkelanjutan TAWSEC, menyampaikan bahwa keterlibatan aktif warga menjadi salah satu hal yang paling terlihat selama kegiatan.

“Warga sangat antusias mengikuti proses pengolahan ikan dari awal hingga akhir. Mereka juga aktif mencoba dan menyesuaikan rasa sampai menemukan cita rasa yang dirasa paling sesuai dan berpotensi diterima oleh konsumen. Harapannya, pengalaman ini bisa menjadi bekal bagi warga untuk mengembangkan produk olahan ikan yang khas dan memiliki nilai jual.”

Selain keterampilan produksi, pembentukan kelompok usaha menjadi langkah penting dalam keberlanjutan program. Kelompok tersebut diharapkan menjadi wadah bagi 15 peserta untuk mengembangkan produk bersama, membagi peran dalam produksi, serta melanjutkan usaha berbasis hasil perikanan Desa Banyusangka. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada praktik pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi berkelanjutan.

Melalui hands-on training, masyarakat memperoleh pengalaman langsung mengubah ikan tongkol menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pendekatan ini diharapkan mendorong perubahan dari pola penjualan bahan mentah menuju pengembangan produk turunan yang dikelola secara mandiri, sekaligus membuka peluang sumber pendapatan baru.

Dampak awal kegiatan terlihat dari meningkatnya kapasitas produksi masyarakat dan terbukanya peluang pengembangan usaha bersama. Peserta mulai memahami bahwa ikan tongkol memiliki potensi ekonomi lebih tinggi ketika diolah menjadi produk turunan yang dapat dikembangkan dan dipasarkan secara lebih luas.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan TAWSEC dalam mendorong women-led micro entrepreneurship berbasis komunitas sekaligus mendukung SDGs. Program ini berkontribusi pada SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui pengembangan peluang ekonomi, SDGs 5 (Kesetaraan Gender) melalui penguatan peran perempuan, SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui usaha berbasis potensi lokal, serta SDGs 14 (Ekosistem Laut) melalui optimalisasi hasil perikanan dan penerapan zero waste.

Pilar Produksi Berkelanjutan menjadi langkah awal sebelum TAWSEC berlanjut pada Pilar Kewirausahaan dan Manajemen, Pilar Digitalisasi dan Branding, serta Pilar Legalitas dan Keberlanjutan. Dengan bertambahnya keterampilan dan terbentuknya kelompok usaha, masyarakat Desa Banyusangka diharapkan semakin siap mengembangkan produk olahan ikan tongkol secara mandiri, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, dan menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir Madura.