Persiapkan Bulan Bahasa, Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan UNAIR Kenalkan Pembuatan Proposal kepada Duta Literasi SMP Negeri 41 Surabaya
Mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga mengadakan Workshop Pembuatan Proposal kepada Duta Literasi SMP Negeri 41 Surabaya.
Dua bulan menjelang pelaksanaan Bulan Bahasa, Duta Literasi SMP Negeri 41 Surabaya mulai mempersiapkan berbagai gagasan kegiatan yang dapat dilaksanakan di lingkungan sekolah. Untuk memberikan bekal awal dalam menuangkan gagasan tersebut, mahasiswa Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga (UNAIR) yang sedang melaksanakan program magang dalam rangka Penyetaraan Kuliah Kerja Nyata - Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) mengadakan Workshop Pembuatan Proposal Kegiatan pada hari Rabu hingga Kamis, 29-30 Juli di SMP Negeri 41 Surabaya.
Workshop yang diikuti oleh sejumlah 24 anggota Duta Literasi ini menjadi salah satu program kerja mahasiswa selama menjalankan kegiatan magang di SMP Negeri 41 Surabaya. Kegiatan tersebut berfokus pada pengenalan dasar pembuatan proposal, mulai dari menentukan ide hingga memahami bagian-bagian yang perlu dicantumkan dalam sebuah proposal kegiatan.
Pemilihan materi tersebut berkaitan dengan persiapan Duta Literasi dalam menyusun kegiatan untuk Bulan Bahasa. Meskipun Bulan Bahasa masih cukup panjang, mahasiswa didukung oleh pihak sekolah dan perpustakaan menginisiasi workshop sebagai latihan awal agar Duta Literasi memiliki gambaran mengenai proses pembuatan proposal sebelum memasuki tahap pembuatan proposal yang sebenarnya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa terlebih dahulu memperkenalkan pengertian dan fungsi proposal kegiatan. Para Duta Literasi kemudian diajak memahami bahwa proposal menjadi sarana untuk menjelaskan gagasan dan rencana sebuah kegiatan secara sistematis. Mahasiswa juga menjelaskan bagian-bagian proposal, seperti cara menentukan ide kegiatan, menyusun latar belakang dan tujuan agar kegiatan tetap berdasar dan memiliki arah yang jelas, menentukan sasaran, serta merancang bentuk kegiatan. Selain itu, Duta Literasi juga dikenalkan dengan bagian lain seperti waktu dan tempat pelaksanaan, susunan kepanitiaan, serta rancangan anggaran kegiatan.
Setelah materi diberikan, Duta Literasi kemudian diberi kesempatan untuk mempraktekkan penulisan proposal kegiatan bersama kelompok yang telah ditentukan sebagai bentuk latihan. Duta literasi didorong untuk mencari gagasan yang dapat mereka kembangkan dalam rangka Bulan Bahasa sesuai dengan kreativitas dan kondisi lingkungan sekolah. Mahasiswa berperan memberikan penjelasan dan arahan mengenai cara menuangkan ide tersebut ke dalam struktur proposal.
Proses tersebut menjadi bagian penting dalam workshop karena Duta Literasi dapat langsung mencoba memahami bagaimana sebuah ide kegiatan dapat dikembangkan. Dengan adanya latihan sejak awal, Duta Literasi juga dapat mengetahui bagian-bagian proposal yang masih perlu mereka pelajari sebelum memasuki tahap pembuatan proposal yang sebenarnya. Bagi Duta Literasi sendiri, workshop tersebut memberikan pengalaman baru dalam memahami cara menyusun sebuah proposal kegiatan. Terlebih setelah memperoleh penjelasan dan kesempatan untuk mencoba mengembangkan gagasan kegiatan mereka sendiri.
“Saya sangat senang dan bahagia bisa mengikuti kegiatan ini, apalagi bisa belajar membuat proposal. Terima kasih sudah membimbing kami dengan baik, Kak,” ujar Artha, salah satu anggota Duta Literasi SMP Negeri 41 Surabaya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran pembuatan proposal tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menulis, tetapi juga mendorong Duta Literasi untuk mulai memikirkan sebuah kegiatan secara lebih terstruktur. Ide yang sebelumnya masih berupa gagasan dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan tujuan, sasaran, serta bentuk kegiatan yang ingin dilaksanakan.
Hal tersebut juga menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan workshop. Kak Putri Puspita Laras, selaku pustakawan SMP Negeri X, menyampaikan bahwa kemampuan menyusun proposal penting bagi Duta Literasi, terutama sebagai bekal dalam berorganisasi dan mengajukan kegiatan. “Jadi, ketika berkegiatan, anak-anak bisa tahu terkait pengajuan kegiatan,” jelasnya.
Melalui workshop ini, mahasiswa UNAIR memberikan bekal awal kepada Duta Literasi sebelum mereka memasuki tahap pembuatan proposal kegiatan Bulan Bahasa yang sebenarnya. Karena waktu penyerahan proposal masih cukup panjang, kegiatan ini tidak diarahkan untuk menghasilkan proposal final, melainkan menjadi kesempatan bagi Duta Literasi untuk mengenal prosesnya dan mencoba mengembangkan ide sejak awal. Dengan demikian, Duta Literasi tetap menjadi pihak yang menentukan ide dan arah kegiatan yang nantinya akan mereka usulkan.
Dari sisi pembelajaran, workshop ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Bermutu (Quality Education), khususnya dalam pengembangan keterampilan yang relevan bagi generasi muda, seperti Duta Literasi. Dengan adanya workshop ini, diharapkan dapat menjadi modal bagi Duta Literasi ketika memasuki tahap pembuatan proposal yang sebenarnya sekaligus juga menjadi ruang belajar bagi Duta Literasi untuk berlatih merancang dan mengembangkan gagasan mereka sendiri, baik dalam persiapan kegiatan Bulan Bahasa atau dalam kegiatan lain di sekolah. Mahasiswa UNAIR melalui program magang konversi KKN turut mengambil peran dalam menyediakan ruang belajar tersebut, sementara Duta Literasi tetap menjadi penggerak utama dalam mengembangkan ide kegiatan yang akan mereka usulkan.