Biokonversi Ampas Tahu Menjadi Pupuk Kompos, Mahasiswa KKN-BBK 8 UNAIR Gandeng Karang Taruna Desa Ngepeh
Pembuatan Biokonversi Ampas Tahu Menjadi Pupuk Kompos
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata–Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) 8 Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan program Biokonversi Ampas Tahu Menjadi Pupuk Kompos bersama 16 anggota Karang Taruna Dusun 3, Desa Ngepeh, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada Minggu (19/7/2026). Kegiatan tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai pengolahan limbah ampas tahu menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan budidaya tanaman obat keluarga (TOGA) di desa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-BBK 8 UNAIR mengajak pemuda desa untuk memanfaatkan limbah ampas tahu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Ampas tahu umumnya hanya digunakan sebagai pakan ternak atau dibuang sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, mahasiswa menghadirkan inovasi sederhana berupa pengolahan ampas tahu menjadi pupuk kompos sebagai alternatif pengelolaan limbah organik yang mudah diterapkan oleh masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian edukasi mengenai potensi limbah ampas tahu sebagai bahan baku pupuk kompos, manfaat kompos bagi kesuburan tanah, serta pentingnya pengelolaan limbah organik secara berkelanjutan. Selanjutnya, mahasiswa mendemonstrasikan tahapan pembuatan pupuk kompos mulai dari proses pencampuran ampas tahu dengan bahan organik lain dan aktivator pengurai hingga proses fermentasi. Setelah itu, seluruh peserta mempraktikkan secara langsung proses pembuatan pupuk kompos dengan pendampingan mahasiswa sehingga setiap tahapan dapat dipahami dan diterapkan secara mandiri.
Ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa program ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah organik, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. "Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan cara sederhana mengolah ampas tahu menjadi pupuk kompos yang bernilai guna. Harapannya, masyarakat dapat memanfaatkan limbah organik sebagai produk yang bermanfaat sekaligus mendukung penghijauan di lingkungan desa," ujarnya.
Pupuk kompos yang dihasilkan dari kegiatan tersebut selanjutnya akan dimanfaatkan untuk mendukung budidaya tanaman obat keluarga (TOGA) di Dusun 3, Desa Ngepeh. Pemanfaatan kompos pada kebun TOGA diharapkan mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus menjadi contoh penerapan pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Melalui program Biokonversi Ampas Tahu Menjadi Pupuk Kompos, mahasiswa KKN-BBK 8 Universitas Airlangga berharap masyarakat semakin terdorong untuk mengelola limbah organik secara mandiri dan berkelanjutan. Program ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pengurangan potensi pencemaran limbah organik, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai guna, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengelolaan limbah secara berkelanjutan, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan limbah organik yang berpotensi mencemari lingkungan, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemanfaatan pupuk kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung pengembangan kebun TOGA di Desa Ngepeh.