Detail Artikel

Perjalanan Na Willa: Motivasi Adaptasi Lingkungan Baru Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga

Alila Laura Margareta (Mahasiswa) Dipublikasikan 01 September 2026
Perjalanan Na Willa: Motivasi Adaptasi Lingkungan Baru Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga

Novel Na Willa sebagai refleksi mahasiswa baru prodi Bahasa dan Sastra Indonesia mengenal rumah barunya di Universitas Airlangga

“Sebentar lagi aku berangkat bersama Mak, ke sekolahku yang baru, Taman Kanak-Kanak Juwita. Aku senang sekali. Sangat senang!” – Na Willa

Menjelang hari pertama masuk sekolah adalah hal yang menyenangkan sekaligus menegangkan bagi anak TK. Menegangkan karena takut dengan ibu guru yang galak atau teman-teman yang nakal, tetapi menyenangkan karena akan bertemu teman-teman baru untuk belajar dan bermain bersama. Hal ini tidak dialami oleh anak TK saja, mahasiswa pun lazim mengalami hal tersebut. Beradaptasi di lingkungan baru bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi tidak ada keluarga yang membersamai mereka.

Beberapa pekan terakhir, novel Na Willa sedang hangat di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Mahasiswa baru program studi Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2026 berbondong-bondong membeli dan membaca novel ini. Mereka sangat antusias menamatkan novel ini bukan semata-mata karena tugas OSPEK (orientasi studi dan pengenalan kampus) melainkan dengan membaca novel ini mereka dapat mengenang dan merefleksi masa kecil mereka. Terlebih kebanyakan dari mereka merupakan anak rantau. Anak rantau biasa bernostalgia akan masa kecil di kampung halamannya sebagai bentuk motivasi dalam beradaptasi di lingkungan baru. Kisah seorang gadis berusia 6 tahun dengan dunia yang dilihat dari kacamatanya ini berhasil mewarnai kegiatan OSPEK program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga tahun 2026.

“Kalau aku besar nanti, aku ingin bisa setinggi Pak. Tapi aku mau rambutku bisa seperti Mak. Berombak, berbelok-belok.” - Na Willa

Seperti Na Willa yang ingin setinggi Pak dan Secantik Mak. Anak kecil pasti memiliki mimpi-mimpi yang tinggi dan indah. Ketika beranjak dewasa, mimpi-mimpi tersebut yang akan memberikan percikan api semangat untuk menjadi versi yang terbaik. Nama yang begitu indah dari seorang gadis berusia 6 tahun yang tinggal di sebuah gang di Surabaya. Novel berjudul Na Willa ciptaan Reda Gaudiamo ini  mengingatkan kita pada masa kecil. Bermain kelereng, layang-layang, mengejar kereta api, hingga pergi ke pasar bersama Mak. Rasa penasaran yang tinggi terhadap hal-hal baru merupakan naluri anak kecil. Masa kecil yang penuh rasa ingin tahu dan menyimpan banyak pertanyaan atas hal-hal baru. Seorang mahasiswa baru juga memiliki banyak pertanyaan di benak mereka. Rasa penasaran akan hal-hal baru yang mereka temui, hingga pada tingkatan berani mencobanya. Belajar Meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, keluar dari zona nyaman mereka, dan mengambil risiko demi masa depan mereka. Na Willa juga merupakan representasi keberagaman. Ia merupakan anak dari keluarga multikultural: Ibunya merupakan keturunan Ambon dan Ayahnya berdarah Tionghoa. Ia juga memiliki teman-teman yang berbeda ras dan agama dengannya. Hal inilah yang menambah kesan pada novel Na Willa karena keberagaman tersebut menggambarkan lingkungan kampus yang memiliki mahasiswa dari berbagai daerah, agama, ras, budaya bahkan negara. Novel ini memberikan pandangan kepada mahasiswa tentang bagaimana hidup di lingkungan yang penuh keberagaman dan cara menyikapinya.

Meskipun novel Na Willa merupakan novel anak, amanat yang terkandung dalam novel ini dapat dipetik oleh berbagai kalangan termasuk mahasiswa. Masa peralihan Na Willa dari seorang anak usia 6 tahun yang suka bermain-main hingga pada akhirnya ia bersekolah di TK Djuwita sangat relate dengan kondisi mahasiswa yang baru menamatkan masa SMA dan memasuki dunia baru, yakni dunia perkuliahan. Bernostalgia akan masa kecil bukan berarti gagal move on, justru dengan bernostalgia kita dapat mengingat bagaimana antusiasme dan semangat kita dalam menjalankan hari-hari di masa kecil serta mempertahankan semangat tersebut untuk menjalani studi hingga lulus. Novel ini dapat menjadi renungan mahasiswa baru dalam menjelajahi rumah barunya, yakni di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga.