Detail Artikel

PERAN IBU SEBELUM ANAK MENGENAL DUNIA DALAM NOVEL NA WILLA

Ribka Natalia (Mahasiswa) Dipublikasikan 09 September 2026
PERAN IBU SEBELUM ANAK MENGENAL DUNIA DALAM NOVEL NA WILLA

Bagi seorang anak kecil, dunia luar adalah panggung raksasa yang membingungkan. Segala hal membuatnya terasa asing sekaligus menakjubkan seperti mempertanyakan mengapa warna kulit manusia berbeda? Mengapa kejujuran itu krusial sekali? Sebelum anak belajar merangkai logika di sekolah atau menyerap aturan yang berada di masyarakat, ada satu sosok yang lebih dahulu memasangkan “kacamata” pertama dalam hidupnya yaitu seorang ibu. Pesan tersirat ini terpencar kuat dalam serial novel Na Willa karya Reda Gaudiamo. Berlatar kehidupan sederhana di Surabaya era 1960-an, cerita ini membawa kita melihat keseharian melalui pandangan seorang anak kecil yaitu Na Willa, anak kecil perempuan yang polos, kritis, dan serba penasaran akan apa yang ia lihat. Namun, daya ketertarikan kisah ini tak berhenti pada kelucuan atau pun celoteh Na Willa saja. Sosok Mak (ibu Na Willa) hadir sebagai kompas moral dan emosional yang membentuk cara pandang anaknya itu sendiri. Tanpa perlu khotbah yang menggurui, Mak mengajari Na Willa bagaimana cara “melihat” dan memahami realitas hidup di sekitarnya. Proses penamaan ini yang dilakukan Mak kepada Na Willa dapat dipahami sebagai sebuah proses pembentukan lensa pengasuhan secara bertahap. Yang di mana lapis pertama dan terutama dari proses ini adalah penanaman empati. Na Willa itu tumbuh di lingkungan yang majemuk atau beragam dan sering kali menjumpai ketimpangan sosial maupun perbedaan etnis di sekitar lingkungan rumah nya. Sebagai cermin murni bagi sang anak itu sendiri, Mak menanggapi rasa ingin tahu nya Na Willa tanpa kepalsuan atau prasangka apapun. Mak menunjukkan bahwa perbedaan etnis itu bukanlah sebuah ancaman yang harus ditakuti dalam kehidupan Na Willa. Dari sini kita bisa mempelajari bahawasanya prasangka tidak pernah dibawa sejak lahir, kecuali jika seorang ibu memandang dunia dengan empati dan rasa hormat, sang anak secara alami akan memandang semuanya dengan kesetaraan dan tidak adanya marginalisasi.

Kalau ditanya secara filosofis. Secara filosofis, seorang ibu itu adalah penyedia sumber pengetahuan dan fondasi pemahaman pertama bagi anak. Sebelum anak mengenal nilai nilai dari berbagai lembaga luar, pemahamannya tentang apa yang sebenarnya baik, adil, dan berharga sudah lebih dahulu terbentuk dari interaksi harian di dalam rumah. Melalui kisah Na Willa ini, kita bisa diingatkan kembali bahwa warisan terbesar seorang ibu bukanlah harta benda saja atau pencapaian materi, melainkan cara pandang yang ditanamkan ke dalam jiwa sang anak. Jika seorang ibu membekali anaknya dengan kacamata kejujuran dan sebuah empati, anak tersebut akan memiliki pegangan batin bahkan motivasi yang kokoh untuk mengarungi kerasnya dunia. Oleh karena itu, artikel ini pada akhirnya menegaskan betapa krusialnya peran seorang ibu dalam fase awal kehidupan seorang anak. Seiring berjalannya waktu dalam novel ini, Na Willa tentu akan tumbuh dewasa dan harus menghadapi dunia yang jauh lebih rumit daripada ruang bermain masa kecilnya di Surabaya. Namun, cara Na Willa memperlakukan sesama manusia, cara ia menjaga kejujuran, serta caranya bangkit dari kesalahan serta kegagalan akan selalu membawa jejak kebijaksanaan dari seorang ibu nya. Cahaya pertama yang ditanamkan dan diberikan seorang ibu di masa kecil anak akan terus menjadi penuntun langkah anak di sepanjang hayat hidupnya.