Detail Artikel

Memaknai kehidupan Absurdisme sebagai WNI di era berita buruk

Alifia Putri Mahanani (Mahasiswa) Dipublikasikan 08 October 2026
Memaknai kehidupan Absurdisme sebagai WNI di era berita buruk

Absurdisme menurut Camus mengundang warga negara Indonesia untuk mengakui batasan-batasan yang ada, menanggapi ketidakadilan, dan terus berusaha menghadapi kenyataan kehidupan.

 

Ketika tempat kita bersinggah dan bertumbuh dipenuhi dengan berita buruk yang tidak ada habisnya. Dari kebakaran hutan lahan di Kalimantan tengah yang asapnya sampai ke negara tetangga, bencana alam di beberapa daerah di Indonesia yang tak kunjung teratasi karena bantuan di korupsi, hingga tekanan inflasi yang mengancam hidup beberapa masyarakat kalangan bawah. Kita marah akan hal buruk yang terjadi, tapi kita juga tahu jika kita tidak selalu mempunyai kuasa untuk merubahnya. Hingga pada titik tertentu, kita berpikir bagaimana cara kita menjalani kehidupan jika dunia di sekitar kita tidak selalu berjalan dengan harapan, keadilan atau logika yang kita yakini.  

Menurut Albert Camus di dalam bukunya yaitu Mite Sisifus, absurditas menjelaskan bahwa kehidupan manusia bertentangan dengan kehendak alam semesta yang rasional. Manusia memiliki kecenderungan untuk memahami dan mencari makna kehidupan serta alasan yang menjelaskan keberadaannya, tetapi dunia memberikan jawaban yang tidak pasti. Keterbatasan akan kondisi serta ketentuan yang ada menjadi faktor ketidakmampuan dunia memenuhi kebutuhan manusia akan makna.  

Absurditas muncul dari pertemuan antara hasrat kita akan makna dengan alam semesta yang tidak memiliki makna. Dalam kondisi tersebut, manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan arah tujuan tetapi tetap ada batasan realitas yang tidak dapat dikendalikan. Berbeda dengan eksistensialisme, Camus menekankan penerimaan jika kehidupan tidak memiliki tujuan yang objektif. Namun jika kehidupan tidak memiliki tujuan, apakah hidup tidak layak untuk dijalani?  bagi Camus kesadaran akan absurditas tidak harus berujung kepada penolakan, manusia menghadapi absurditas dengan menyadari ketidakpastian tersebut dan menjalani kehidupan tanpa makna absolut yang sebenarnya tidak ada.  

Perlu dibedakan antara menerima kenyataan jika manusia memiliki keterbatasan dan menyerah terhadap kenyataan tersebut. Bukan menganggap persoalan sosial harus diterima sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah secara mentah mentah. Camus beranggapan kesadaran terhadap absurditas berkaitan dengan revolt, yaitu sikap terus menghadapi kehidupan tanpa melarikan diri dari kenyataan yang absurd sebagai wujud pemberontakan. Maka dari itu hidup di tengah berita buruk bukan berarti mewajibkan orang untuk selalu berpikiran positif. Seseorang dapat mengakui jika keadaan memang buruk, merasa marah akan ketidakadilan yang terjadi, dan tetap menjalani hidup serta melakukan sesuatu di ruang lingkup yang masih dapat ia kendalikan.

Absurdisme menjadi relevan bagi kehidupan kita sebagai Warga Negara Indonesia, karena kita tidak memiliki kendali penuh terhadap kebijakan negara, kondisi ekonomi, bencana alam yang terjadi , maupun berbagai peristiwa yang setiap hari muncul dalam pemberitaan. Tetapi kita masih dapat menentukan bagaimana kita merespoms informasi, apa yang kita kerjakam dan apa yang kita perjuangkan. Keterbatasan yang ada tidak menghapus selurung ruang pilihan yang kita miliki. Kehidupan yang kita jalani menjadi lebih berwarna karena kita memilih untuk hidup di tengah ketiadaan jawaban final yang diberi dunia.