Mahasiswa FK UNAIR Jalani Elektif Chronic Pain di Charing Cross Hospital London
Mahasiswa FK UNAIR jalani elektif Chronic Pain di Charing Cross Hospital London, pelajari injeksi intervensi dan temui kasus langka
LONDON — Mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Muhammad Zaki Nugroho, menjalani program elektif klinik selama empat pekan di Departemen Chronic Pain, Charing Cross Hospital, Imperial College Healthcare NHS Trust, London, pada 7 September–2 Oktober 2026.
Elektif dimulai Senin, 7 September 2026, dengan klinik rawat jalan sepanjang hari. Jadwal pekan-pekan berikutnya menempatkan Zaki pada alur layanan nyeri kronik secara menyeluruh: klinik rawat jalan, daftar tindakan intervensi, pertemuan klinis, serta visite nyeri akut di bangsal bersama Dr Stranix setiap Jumat.
Belajar prosedur intervensi nyeri
Bagian terbesar dari pengalaman ini adalah paparan terhadap tindakan intervensi yang belum banyak dikerjakan secara rutin di Indonesia. Zaki mengikuti daftar tindakan injeksi hampir setiap pekan, mengamati langsung epidural steroid injection, sacroiliac joint injection, serta facet joint medial branch block.
Injeksi steroid epidural digunakan pada nyeri radikuler akibat penekanan akar saraf, sementara injeksi sendi sakroiliaka menyasar nyeri punggung bawah yang bersumber dari sendi tersebut. Adapun blok cabang medial ditujukan pada sendi faset dan berfungsi ganda: sebagai uji diagnostik sekaligus penentu apakah pasien layak menjalani ablasi radiofrekuensi.
"Yang mengesankan bukan tindakannya semata, tapi disiplin memilih pasien," ujar Zaki. "Setiap injeksi punya indikasi yang sempit. Kalau blok diagnostik tidak memberi respons, rencananya diubah — bukan diulang begitu saja."
Nyeri sebagai diagnosis, bukan gejala sisa
Di klinik rawat jalan, satu pasien dapat dievaluasi 30 hingga 40 menit, mencakup pemetaan nyeri, riwayat pengobatan, kemampuan fungsional, hingga aspek psikososial.
"Cara berpikirnya berbeda," kata Zaki. "Nyeri diperlakukan sebagai diagnosis tersendiri, bukan sekadar sisa keluhan dari penyakit lain. Itu jarang saya lihat di poliklinik dengan antrean panjang."
Sjögren dan Bertolotti
Dua kasus menarik perhatiannya karena jarang tegak diagnosisnya di Indonesia: sindrom Sjögren dan sindrom Bertolotti.
Sindrom Sjögren adalah penyakit autoimun yang menyerang kelenjar eksokrin, menimbulkan mata dan mulut kering, namun kerap disertai nyeri muskuloskeletal difus serta kelelahan kronik. Gejalanya tumpang tindih dengan fibromialgia sehingga mudah luput, apalagi bila akses pemeriksaan antibodi anti-SSA/SSB dan biopsi kelenjar liur minor terbatas.
Sindrom Bertolotti lebih jarang dibicarakan. Kondisi ini merujuk pada nyeri punggung bawah yang berasal dari lumbosacral transitional vertebra, yaitu varian anatomis berupa vertebra peralihan yang membentuk sendi semu dengan sakrum. Diagnosisnya menuntut pembacaan pencitraan yang teliti dan sering dikonfirmasi lewat blok diagnostik terarah.
"Bertolotti contoh paling jelas kenapa nyeri kronik butuh subspesialisasi," kata Zaki. "Fotonya bisa dibaca normal kalau kita tidak secara khusus mencari vertebra transisional. Pasien akhirnya berpindah-pindah dokter bertahun-tahun dengan label low back pain non-spesifik."
Menurutnya, perbedaan utama bukan pada peralatan. "Yang membedakan adalah jalur rujukan yang jelas dan tim multidisiplin yang duduk bersama. Ketika anestesiolog, fisioterapis, dan psikolog membahas satu pasien di meja yang sama, diagnosis langka jadi lebih mungkin tertangkap."
Catatan bagi pendidikan kedokteran
Selama penempatan, Zaki berstatus observer dan tidak terlibat dalam tindakan terhadap pasien. Ia mengisi logbook elektif yang ditandatangani supervisor sebagai bagian dari persyaratan akademik FK UNAIR.
"Harapan saya pengalaman ini tidak berhenti sebagai catatan pribadi," tutupnya. "Layanan nyeri kronik terstruktur masih sedikit di Indonesia, padahal pasiennya banyak. Kalau modelnya bisa diadaptasi, meski sederhana, itu sudah berarti besar."