Detail Artikel

Mahasiswa UNAIR Ajak Warga Wonorejo Olah Sampah Organik melalui Budidaya Maggot dan Lele

CAROLAUS ANUGRAH SIH KASETYAN (Mahasiswa) Dipublikasikan 21 September 2026
Mahasiswa UNAIR Ajak Warga Wonorejo Olah Sampah Organik melalui Budidaya Maggot dan Lele

Mahasiswa UNAIR dan warga Wonorejo mengembangkan budidaya maggot dan lele yang bertujuan untuk mengolah sampah organik dan mendukung pangan.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (UNAIR), bersama warga RT 03 RW 07 Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Surabaya, menutup rangkaian program budidaya maggot dan lele pada 8 September 2026. Acara penutupan diisi dengan makan bersama hasil panen lele yang telah dipelihara warga sejak pembukaan program. Kegiatan dilaksanakan dalam dua acara utama. Pembukaan sekaligus dimulainya program berlangsung pada 25 Juni 2026, sedangkan penutupan dilaksanakan pada 8 September 2026. Lele yang dinikmati saat makan bersama merupakan hasil budidaya dari lele yang diserahkan kepada warga pada acara pembukaan, sehingga penutupan turut menandai pemanfaatan hasil pemeliharaan selama program berlangsung.

Program tersebut berangkat dari kebutuhan pengelolaan sampah organik di kawasan permukiman yang dihuni lebih dari 90 kepala keluarga. Sisa makanan, sayuran, dan limbah dapur menjadi sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan kembali. Keterbatasan lahan juga menjadi pertimbangan dalam memperkenalkan budidaya skala rumah tangga menggunakan wadah sederhana yang dapat ditempatkan di pekarangan. Pada tahap persiapan, tim melakukan uji coba budidaya lele dan maggot serta menyiapkan sarana pemeliharaan. Wadah budidaya lele dibuat dari galon, sementara tempat pemeliharaan maggot menggunakan tripleks. Pada awal pelaksanaan, tim membagikan 10 unit sarana budidaya lele beserta lele dan maggot kepada warga yang bersedia merawatnya.

Pembukaan program disertai sosialisasi mengenai teknik budidaya, pengelolaan sampah organik, dan penerapan ekonomi sirkular. Koordinasi kegiatan turut melibatkan Ketua PKK RT 03 RW 07, Ni Luh Rara. Warga diperkenalkan pada hubungan antara pengolahan sampah dan pemeliharaan ikan agar dapat memahami kebutuhan perawatan serta menjalankan budidaya setelah menerima sarana yang disediakan. Dalam sistem yang diperkenalkan, sampah organik digunakan sebagai pakan maggot, yaitu larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dipanen kemudian dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi lele. Sisa pengolahan maggot, atau kasgot, juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan lingkungan. Pola ini menghubungkan pemanfaatan limbah rumah tangga dengan kebutuhan budidaya ikan. Pemilahan sampah dan pasokan bahan organik yang teratur menjadi bagian penting dalam pemeliharaan maggot. Selama pelaksanaan, tim menghadapi kendala penggantian air dan pemberian pakan yang belum teratur, sehingga sebagian lele tidak bertahan hidup. Untuk memperbaiki pengawasan, frekuensi pemantauan ditingkatkan dari sekali seminggu menjadi setiap tiga hari. Pendampingan mencakup pemeriksaan kualitas air, kondisi ikan, dan ketersediaan sampah organik, disertai perbaikan pengawasan pemberian pakan maggot.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDG) 12: Sustainable Consumption and Production sebagai tujuan utama. Pengolahan sampah organik menjadi pakan maggot memperlihatkan pemanfaatan kembali sumber daya melalui ekonomi sirkular. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengurangi sampah yang dibuang sekaligus membantu mengurangi ketergantungan budidaya lele pada pakan komersial. Program ini sejalan pula dengan SDG 2: Zero Hunger, melalui upaya memperkuat ketersediaan sumber protein bagi warga. Pemanfaatan hasil panen lele dalam makan bersama pada penutupan menunjukkan bahwa hasil budidaya telah digunakan untuk konsumsi. Pengalaman tersebut diharapkan mendorong warga melanjutkan budidaya sebagai salah satu pilihan penyediaan pangan keluarga. Manfaat program juga dirasakan langsung oleh warga penerima budidaya. Bu Tristio Prihatin mengungkapkan, “Saya sangat terkesan karena kegiatan ini sangat membantu, pertama lele sebagai makanan atau lauk dan juga kedua untuk kegiatan sehari-hari.”, sebagai bentuk apresiasi terhadap kegiatan yang menggabungkan pengelolaan sampah organik dan penyediaan pangan keluarga.

Acara penutupan menjadi bagian akhir dari rangkaian pendampingan yang menghubungkan pengenalan budidaya dengan pemanfaatan hasil panen. Melalui kegiatan ini, warga memperoleh kesempatan mempelajari pengelolaan sampah organik, menjalankan pemeliharaan lele, dan menikmati hasilnya bersama. Makan bersama juga menjadi momen kebersamaan bagi mahasiswa dan warga yang terlibat dalam pelaksanaan program. Selain untuk konsumsi, hasil budidaya lele dan maggot berpotensi dikembangkan sebagai sumber pendapatan tambahan apabila produksi meningkat. Pengembangan tersebut memerlukan pengelolaan usaha dan pemasaran yang lebih terencana. Penilaian manfaat ekonomi juga membutuhkan pencatatan hasil panen dan biaya pemeliharaan, sementara manfaat lingkungan perlu ditinjau melalui jumlah sampah organik yang berhasil diolah.

Keberlanjutan budidaya setelah penutupan memerlukan keterlibatan warga dalam pemilahan sampah, pemberian pakan, dan perawatan sarana. Pembagian tugas serta pemantauan berkala menjadi kebutuhan agar kegiatan dapat dikelola secara mandiri. Program ini diharapkan menjadi bekal bagi warga untuk melanjutkan pengolahan sampah organik sekaligus memanfaatkan pekarangan sebagai ruang budidaya pangan yang produktif.