Detail Artikel

Mahasiswa Universitas Airlangga Monev Program Kokedama bersama PKK TVRI Kota Surabaya

MOH ROFI'UL IKHSAN (Mahasiswa) QARINA RASYA AQUILA (Mahasiswa) Dipublikasikan 08 October 2026
Mahasiswa Universitas Airlangga Monev Program Kokedama bersama PKK TVRI Kota Surabaya

SURABAYA – Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga melakukan monitoring dan evaluasi terhadap program pengabdian masyarakat "Dari Limbah Jadi Rupiah: Kreasi Tanaman Hias Kokedama" bersama Komunitas Ibu PKK TVRI Kota Surabaya. Evaluasi dilakukan untuk memastikan keterampilan yang diajarkan terus berjalan dan dapat dikembangkan secara mandiri oleh komunitas.

Program ini dijalankan tiga mahasiswa, yakni Moh. Rofiul Ikhsan, Qarina Rasya Aquila, dan Athaya Fawwaz Navendra. Mereka dibimbing dosen Intan Fitranisa, S.I.Kom., M.Med.Kom. dalam skema Kuliah Kerja Nyata Penyetaraan (KKN-P). Kegiatan berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026 di lingkungan permukiman TVRI, Dukuh Pakis II, Surabaya.

Program ini berangkat dari dua hal yang ditemukan tim saat survei. Anggota Ibu PKK TVRI sudah gemar berkebun tanaman hias, tetapi belum mengembangkannya menjadi kegiatan bernilai ekonomi. Di sisi lain, pedagang kelapa di kawasan Menur menghasilkan limbah sabut kelapa dalam jumlah besar yang umumnya hanya menumpuk atau dikirim kembali ke daerah asal tanpa diolah.

Tim kemudian memilih Menur sebagai sumber bahan baku setelah membandingkannya dengan kawasan Suramadu dan Kenjeran. Sabut kelapa yang terkumpul direndam, dipipihkan, disisir, dicuci, dan dikeringkan hingga siap menjadi media tanam. Sabut itu lalu dipakai untuk membungkus bola tanah pada kokedama, yaitu teknik menanam hias tanpa pot yang berasal dari Jepang.

Pelatihan praktik digelar pada 10 Mei 2026 dan diikuti 10 anggota Ibu PKK TVRI dari divisi kreatif. Peserta mempraktikkan seluruh tahapan, mulai dari membentuk media tanam, memilih tanaman, hingga membungkus dan merapikan produk, dengan didampingi tim mahasiswa. Satu pendamping membantu dua hingga tiga peserta agar hasilnya layak jual.

Sepanjang Mei 2026, tim melanjutkan pendampingan produksi dan membantu promosi digital lewat akun Instagram khusus, Story WhatsApp, dan grup percakapan. Kader komunitas, Ibu Rubai, yang sudah lebih dulu menekuni usaha tanaman hias, dilibatkan sejak awal sebagai penggerak internal agar program tetap berjalan setelah tim mahasiswa selesai bertugas.

Berdasarkan post-test, seluruh peserta (10 dari 10 orang) menyatakan memahami cara membuat dan merawat kokedama, mampu membuatnya secara mandiri, dan percaya diri menjualnya. Semuanya juga bersedia membagikan ilmu kepada anggota PKK lain dan mengajak keluarga serta tetangga memanfaatkan limbah organik. Sebelum pelatihan, tak satu pun peserta menyatakan mampu membuat kokedama.

Produk kemudian dipromosikan langsung pada Car Free Day Jalan Darmo, Surabaya, 7 Juni 2026. Tim berkeliling menawarkan produk sambil menceritakan asal bahan bakunya. Banyak pengunjung tertarik dan meminta kontak untuk memesan kokedama secara custom.

Evaluasi menyeluruh pada 13 Juni 2026 juga mencatat sejumlah kendala:

  • Jumlah peserta: baru 10 orang sehingga produksi bergantung pada segelintir individu.
  • Pengolahan sabut: dikerjakan tim tanpa melibatkan peserta, masih manual, dan bergantung pada cuaca.
  • Kemasan: produk belum memiliki kemasan yang menarik.
  • Pasokan: belum ada kesepakatan resmi dengan pedagang kelapa di Menur.
  • Pemasaran: waktu promosi singkat, dan rencana mengikuti pameran kota gagal terealisasi karena keterbatasan waktu dan biaya sewa tenant.

Tim merekomendasikan agar ibu-ibu PKK dilibatkan langsung dalam pengolahan sabut kelapa dan peralatan produksi dibuat lebih efisien. Kemasan perlu dibuat lebih menarik dan informatif, sementara pemasaran diperluas lewat berbagai kanal digital dengan waktu promosi lebih panjang. Tim juga mengusulkan kerja sama dengan pemasok sabut kelapa serta pendampingan berkala dengan jumlah peserta yang diperbanyak.

"Kedepannya program ini diharapkan dapat menyerap lebih banyak SDM, khususnya bagi masyarakat di sekitar kawasan kompleks Perumahan PKK TVRI Kota Surabaya, dan setelah kita monitor program ini telah sukses memberdayakan keterampilan Ibu-Ibu PKK yang hasilnya laku dijual dipasaran," ujar Ikhsan.

Sementara itu, "Alhamdulilahnya dari yang sebelumnya hobi bertanam cuman sebagai kegiatan ketika lagi di rumah, sekarang bisa menambah penghasilan keluarga, semoga dengan beberapa rekomendasi yang diberikan mahasiswa Uniar dapat memberikan manfaat nyata tentunya bagi komunitas kami" kata Rubai, Kader Ibu-Ibu Kompleks Perumahan PKK TVRI Kota Surabaya.

Keberhasilan dari rogram ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.