Meningkatkan Kesadaran Geoheritage melalui Revitalisasi Museum Gua Tenggar: Ruang Baru dalam Menapaki Jejak Leluhur Tulungagung
Program PKM-DB dilaksanakan melalui kolaborasi Universitas Airlangga dengan BAPPEDA Kabupaten Tulungagung, Badan Pengelola Geopark Tulungagung, IKA UNAIR Tulungagung.
Balai Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung, menjadi tempat peresmian Museum Situs Prasejarah Gua Tenggar pada Selasa, 16 September 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Desa Binaan (PKM-DB) FISIP Universitas Airlangga dengan tema "Membangun Desa Cerdas Geoheritage dan Geopark".
Program ini merupakan kolaborasi Universitas Airlangga dengan BAPPEDA Kabupaten Tulungagung, Badan Pengelola Geopark Tulungagung, Ikatan Alumni Universitas Airlangga Cabang Tulungagung, serta Pokdarwis Catra Anom. Arif Sujoko, S.Pi., MSA., yang mewakili Kepala BAPPEDA, menegaskan bahwa Desa Tenggarejo memiliki posisi istimewa sebagai satu-satunya desa di Tulungagung yang memiliki museum. Peresmian ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat akan nilai geoheritage, lingkungan karst, serta Gua Tenggar sebagai lanskap sejarah alam dan budaya.
Membangun Kesadaran melalui Kolaborasi
Sosialisasi mempertemukan berbagai unsur pemerintah, pendidikan, dan masyarakat, antara lain BAPPEDA, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Cabang Dinas Kehutanan, Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, Camat, Kepala Desa beserta pamong, Babinsa, Bhabinkamtibmas, para kepala sekolah, Ketua BPD, KTH, serta Forum Komunitas Hijau. Kehadiran beragam unsur ini menegaskan bahwa pelestarian Gua Tenggar menuntut kerja bersama.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Desa yang menyatakan dukungannya. Prof. Yuyun Wahyu Izzati, Ph.D., menekankan pentingnya komunikasi dalam pelestarian, mengingat keterlibatan berbagai kelompok dengan kepentingan berbeda diperlukan. Perwakilan BAPPEDA lalu memaparkan program pengembangan ekosistem hutan yang selaras dengan tujuan PKM-DB, membuka ruang sinergi antara pengabdian masyarakat dan agenda pemerintah daerah.
Gua Tenggar, Geoheritage, dan Lanskap Air
Gagasan utama disampaikan Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Phil. Toetik Koesbardiati, DFM., PA.(K). Program ini diarahkan pada peningkatan kesadaran masyarakat atas nilai geoheritage kawasan karst Tulungagung, khususnya Gua Tenggar. Pelestarian tidak hanya berarti menjaga situs dengan tinggalan paleontologi dan arkeologi, sebab kawasan karst juga memiliki fungsi ekologis terkait tata air. Karena itu, muncul gagasan penghijauan kembali kawasan karst, terutama wilayah penyangga resapan air, serta keberadaan embung untuk ketersediaan air bagi warga.
Dari Temuan Fauna Menuju Museum Desa
Museum Situs Prasejarah Gua Tenggar berawal dari perhatian masyarakat terhadap temuan dari kawasan gua, termasuk sisa-sisa fauna. Revitalisasi yang dikoordinir Delta Bayu Murti, S.Sos., M.A., melalui PKM-DB menjadi langkah mengembangkan cikal bakal museum menjadi ruang yang lebih tertata dan mudah diakses. Dengan dukungan Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian Universitas Airlangga, pembaruan difokuskan pada interior dan tata ruang agar koleksi mudah dipahami pengunjung berbagai usia.
Museum diarahkan bukan semata sebagai ruang penyimpanan, melainkan ruang belajar yang menghubungkan temuan dengan lingkungan asalnya. Setiap temuan memiliki konteks: berasal dari lingkungan, ditemukan melalui penelitian, dan berkaitan dengan lanskap tempat manusia serta fauna pernah hidup. Penataan interior berupaya menghadirkan gambaran lanskap masa lalu, sehingga museum menjadi media membangun imajinasi ilmiah. Bagi pelajar, pendekatan ini menjadi jalan mengenal paleontologi, arkeologi, geologi, dan lingkungan lebih dekat; bagi masyarakat, museum menjadi ruang mengenali kembali warisan di wilayah mereka.
Keberadaan museum sebagai ruang belajar sejalan dengan SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas, karena menyediakan akses pembelajaran yang membangun pemahaman ilmiah bagi semua kalangan. Adapun penghijauan karst, perlindungan situs, dan pengelolaan tata air mencerminkan SDGs 15 tentang menjaga ekosistem darat, terutama dalam melestarikan kawasan karst sebagai penyangga kehidupan masyarakat.
Suara Masyarakat dalam Pelestarian Gua Tenggar
Pelestarian situs tidak lepas dari kebutuhan masyarakat sekitar. Pak Mudin, yang mewakili warga, berharap akses menuju Gua Tenggar diperbaiki agar lebih mudah digunakan petani, pekebun, maupun wisatawan. Masyarakat juga mengusulkan pembangunan pagar pembatas agar kunjungan tidak mengganggu kebun dan aktivitas pertanian. Berbagai tanggapan ini memperlihatkan bahwa pengembangan Gua Tenggar tidak cukup hanya dengan memperbaiki museum; akses, lingkungan, dan perilaku pengunjung juga perlu menjadi bagian perencanaan kawasan.
Menjaga Jejak Leluhur dan Lanskapnya
Membangun kesadaran geoheritage tidak berhenti pada pembangunan museum, melainkan perlu diteruskan melalui perlindungan situs, penghijauan, pengelolaan tata air, perbaikan akses, serta pengelolaan kunjungan yang tidak mengganggu aktivitas warga. Gua Tenggar pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang tersimpan di dalam gua, tetapi juga lanskap, hutan, air, dan komunitas yang kini menjadi bagian dari sejarah situs tersebut. Melalui kolaborasi berbagai pihak, Museum Gua Tenggar diharapkan berkembang menjadi ruang yang menghubungkan masa lalu dengan kebutuhan masa kini, sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk mengenali, mempelajari, dan menjaga warisan geoheritage Tulungagung.