Sinergi Ekologi dan Digitalisasi FEB UNAIR melalui BUMDes di Kandangan, Lumajang
FEB UNAIR dan BUMDes Kandangan mengolah limbah kopi serta mendigitalisasi keuangan desa demi mewujudkan SDGs Responsible Consumption dan Decent Work.
Mengubah limbah menjadi pundi-pundi rupiah mungkin terdengar begitu klise. Namun, bagi tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) hal tersebut berhasil dibuktikan bukan hanya sekadar jargon. Melalui kolaborasi secara intensif bersama warga desa dan pengurus BUMDes Kandangan, pada Kamis (13/08/2026) , tim pengmas FEB UNAIR berhasil membuktikan bahwa ekonomi sirkular bisa berjalan beriringan dengan akuntabilitas digital.
Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, program ini dieksekusi oleh tim lintas keahlian. Di bawah pimpinan Bapak Wisnu Wibowo, tim dosen yang turun langsung mencakup Ibu Dian, Bapak Rizki,, Bapak Habib, Bapak Jovi, dan Bapak Syaikh. Gerak akademisi ini juga diperkuat oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Dante, Lily, dan A. Zaki Erfanda. Secara kolektif, tim ini membawa pendekatan ganda untuk BUMDes Kandangan, yakni hilirisasi limbah kulit kopi menjadi cascara dan modernisasi pencatatan keuangan. Kini, desa yang berada di lereng Gunung Semeru tersebut tengah bertransformasi menjadi desa percontohan nyata untuk integrasi ekologi dan digitalisasi ekonomi.
Dari Ekologi menuju Zero Waste
Bapak Wisnu Wibowo menjelaskan bahwa inovasi utama berfokus pada penyelesaian masalah lingkungan sekaligus penciptaan nilai tambah. Hal itu secara langsung tertuju pada Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12, yakni Responsible Consumption and Production.
Pemilihan kulit buah kopi sebagai fokus utama didasari oleh potensi besar dibaliknya yang begitu lama terabaikan. Umumnya, kulit buah kopi kerap berakhir hanya sebagai limbah yang membusuk secara alami. Padahal, jika dikelola dengan tepat justru banyak menghasilkan nilai ekonomi yang begitu menjanjikan bagi masyarakat.
Oleh karena itu, intervensi berupa pemberian mesin pengering menjadi salah satu solusi strategis yang mampu menyelesaikan dua masalah sekaligus. Mesin tersebut memutus rantai pengelolaan limbah kopi dan mengonversinya menjadi bahan baku cascara dengan nilai jual tinggi.
Digitalisasi Pengelolaan Keuangan
Transformasi ekologis dan sinergitas yang selama ini telah dilakukan ini akan begitu rentan jika tidak adanya pilar kedua, yakni tata kelola keuangan secara transparan. Sering kali, inovasi produk hasil pemberdayaan yang telah dikembangkan menjadi gagal akibat adanya sistem administrasi keuangan yang masih konvensional. Pencatatan secara manual sering kali menimbulkan kesalahan dan membuka resiko tercampurnya arus kas.
Merespon hal tersebut, tim pengabdian masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNAIR) yang juga melibatkan mahasiswa ini juga mulai menginisiasi program literasi keuangan digital. Program tersebut dimulai dengan sebuah pelatihan pembukuan dengan menggunakan aplikasi Point of Sale (POS) Kasir Pintar.
Langkah itu juga membangun relevansi langsung akan poin Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8, yakni Decent Work and Economic Growth. Melalui pencatatan keuangan yang sistematis, setiap transaksi penjualan yang terjadi dibawah BUMDes Kandangan dapat dipantau secara langsung dan presisi. Manajemen arus dan kas atau cash flow yang transparan ini menjadi pondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi yang sehat, memastikan bahwa unit usaha desa mampu dijalankan dengan standar yang layak, modern, dan akuntabel.
Kemandirian Melalui Sinergitas Antargenerasi
Keberhasilan sinergi ekologi dan digitalisasi ini pada akhirnya bergantung pada para warga desa sebagai aktor utama penggerak BUMDes. Kesadaran akan penetrasi teknologi di wilayah pedesaan seringkali memicu resistensi sosiologis jika tidak dikelola dengan baik. Merespon hal tersebut, pendekatan yang digunakan harus dengan adanya kolaborasi antar generasi secara terstruktur.
Para pemuda desa yang secara natural lebih adaptif terhadap teknologi didorong untuk mengambil peran di garis depan sebagai operator utama mesin kasir digital. Di saat bersamaan, para pengurus senior tetap memegang kendali strategis dengan bertindak sebagai pengawas manajerial. Pembagian peran ini tidak hanya mempercepat proses adaptasi teknologi (user adoption), tetapi juga sukses menciptakan ekosistem check and balance yang sangat sehat bagi tata kelola BUMDes ke depannya.
Dari lereng Gunung Semeru, kolaborasi erat antara warga Desa Kandangan dan sivitas akademika FEB UNAIR memberikan sebuah pembuktian penting. Transformasi ini menjadi manifestasi nyata dari pencapaian dua target global sekaligus. Inovasi ekologis pengolahan limbah kopi berhasil menjawab tantangan Responsible Consumption and Production (SDGs 12), sementara ketegasan tata kelola keuangan digital memastikan terwujudnya Decent Work and Economic Growth (SDGs 8).
Ketika kedua pilar tersebut dirawat oleh harmoni lintas generasi, sebuah desa mampu bertransformasi menjadi entitas bisnis komunal yang tangguh dan berkelanjutan. Inilah wujud paling sejati dari paradigma Kampus Berdampak; ketika ilmu pengetahuan tidak hanya bergema di ruang kelas, melainkan membumi dan menghidupkan kemandirian masyarakat dari waktu ke waktu.