Merawat Tradisi, BBK 8 Sukorejo Dukung Hari Jadi 100 Tahun Desa
Melalui keterlibatan ini, mahasiswa BBK 8 Sukorejo memperoleh pengalaman berharga secara langsung mengenai banyak nilai, pelestarian budaya, serta pentingnya kolaborasi.
Denting gamelan yang berpadu dengan alunan tembang Jawa mengiringi semarak pagelaran wayang kulit yang berlangsung sepanjang malam di depan Balai Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Bagi Kelompok BBK 8 Desa Sukorejo Universitas Airlangga, momen ini menjadi pengalaman berharga karena tidak setiap pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata memberikan kesempatan terlibat dalam peringatan satu abad perjalanan desa. Pada Rabu (15/7), Pemerintah Desa Sukorejo bersama panitia penyelenggara menggelar serangkaian acara melalui pagelaran seni wayang kulit dengan lakon Sesaji Rajasuya yang dibawakan oleh Dalang Ki Yuwono Lebdo Carito. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa BBK 8 Desa Sukorejo Universitas Airlangga berpartisipasi membantu persiapan acara, dokumentasi, serta pembuatan video publikasi sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan penyebarluasan informasi kegiatan desa.
Peringatan Hari Jadi tahun ini menghadirkan dua rangkaian utama, yaitu kegiatan bersih desa dan pagelaran seni yang mengandung makna berupa pelestarian budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga dini hari ini berhasil mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat Desa Sukorejo bahkan sampai dengan masyarakat desa sekitarnya. Acara ini juga dihadiri berbagai unsur penting, mulai dari tokoh agama, unsur Forkopimda, jajaran kepolisian, tenaga kesehatan, pengurus BUMDes dan KopDes, Karang Taruna, kepala desa dari wilayah sekitar, hingga masyarakat umum. Kehadiran dari berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa peringatan hari jadi desa tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi menjadi sebuah ruang berkumpulnya masyarakat lintas wilayah dalam suasana kebersamaan.
Ketua pelaksana kegiatan ini yakni Ahmad Fauji menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi dan Ruwatan 100 Tahun Desa Sukorejo tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi, namun juga memperkuat tali silaturahmi dan membangun kerja sama antarlembaga maupun masyarakat. Momentum yang mengumpulkan berbagai elemen ini juga menjadi ajang saling mengingatkan dalam mengemban amanah kepemimpinan. Dalam sambutannya, Ahmad Fauji berpesan, "Tegaknya dunia dibangun dari empat perkara: ilmunya ulama, adilnya pemimpin, sedekahnya orang kaya, dan doa fakir miskin. Maka semoga para pemimpin yang menghadiri acara ini dapat menjalankan amanah dengan adil dan sebaik-baiknya." Dari pesan tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah pembangunan desa bukan berbentuk kemajuan fisik saja, tetapi juga berupa nilai kebersamaan, kepemimpinan yang adil, dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.
Melalui keterlibatan dalam kegiatan ini, mahasiswa BBK 8 Desa Sukorejo Universitas Airlangga memperoleh pengalaman berharga untuk belajar secara langsung mengenai nilai gotong royong, pelestarian budaya, sampai dengan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat di dalamnya. Partisipasi dalam peringatan satu abad Desa Sukorejo menjadi sebuah wujud nyata pengabdian mahasiswa sekaligus memperkaya pengalaman dalam memahami kehidupan sosial dan budaya masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran di luar kampus.
#UniversitasAirlangga
#KampusBerdampak