BBK 8 Universitas Airlangga Kenalkan Metode Pengomposan dengan Media Ember, Solusi Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Organik Cair dan Kompos
Mahasiswa KKN BBK 8 Universitas Airlangga di Desa Gembong menggelar sosialisasi dan demonstrasi pengolahan sampah organik menjadi kompos dan POC.
Lamongan - Program Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN BBK) 8 Universitas Airlangga Desa Gembong, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan menggelar sosialisasi dan demonstrasi pengolahan sampah organik bersama ibu-ibu PKK Desa Gembong. Kegiatan ini menawarkan solusi berkelanjutan untuk mengurangi sampah organik dari rumah tangga yang dibuang sembarangan dengan metode pengomposan menggunakan media ember menjadi pupuk organik cair (POC) dan pupuk padat. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 Juli 2026, pukul 10.00 WIB di Balai Desa Gembong dan diikuti oleh 53 anggota PKK.
Sampah organik merupakan jenis sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup dan mudah terurai secara alami, seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, serta daun kering. Sampah organik sebagian besar dihasilkan dari aktivitas dapur sehingga menjadi salah satu jenis limbah rumah tangga yang jumlahnya cukup tinggi. Disisi lain, sampah organik dapat dijadikan kompos padat atau pupuk organik cair (POC) yang bermanfaat bagi tanaman dan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Kegiatan diawali dengan penyampaian permasalahan yang ada di lingkungan sekitar, khususnya tingginya jumlah sampah organik rumah tangga yang belum dikelola secara optimal. Selanjutnya, mahasiswa BBK memberikan sosialisasi mengenai pentingnya pemilahan sampah organik, manfaat pengomposan, serta pengenalan media ember yang disusun tumpuk menjadi dua sebagai alternatif pengelolaan sampah yang mudah dan efektif diterapkan di tingkat rumah tangga.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan komposter menggunakan media ember. Mahasiswa BBK memperagakan secara langsung tahapan pembuatan komposter, mulai dari persiapan alat dan bahan, penyusunan bahan organik yang akan dimasukkan, penambahan bioaktivator, hingga cara pengulangan dan pemantauan sampah organik agar dapat menghasilkan pupuk organik cair (POC) dan pupuk padat (kompos). Peserta juga diberi kesempatan untuk melakukan sesi tanya jawab serta berdiskusi terkait pembuatan komposter, seperti jenis sampah yang digunakan, cara mengatasi bau, serta waktu yang dibutuhkan hingga kompos siap dimanfaatkan.
Sebagai bentuk tindak lanjut, mahasiswa BBK membagikan beberapa unit komposter melalui mekanisme doorprize. Penerima komposter akan didampingi melalui pemantauan berkala untuk melihat perkembangan proses pengomposan sekaligus memberikan solusi apabila ditemukan kendala selama penerapan di rumah.
Luthfi Nahar sebagai PIC program menyampaikan bahwa antusiasme peserta terlihat sangat tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal tersebut ditunjukkan dari keaktifan ibu-ibu PKK dalam mengajukan pertanyaan dan ketertarikan mereka terhadap metode pengomposan media ember tumpuk sebagai solusi pengelolaan sampah organik di rumah. “Peserta sangat aktif berdiskusi dan menunjukkan minat untuk menerapkan metode ini. Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat dipraktikkan secara berkelanjutan sehingga mampu mengurangi sampah organik sekaligus menghasilkan pupuk yang bermanfaat,” ujarnya.
Program ini dilaksanakan dengan turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengelolaan sampah organik secara bertanggung jawab menjadi produk yang bermanfaat, serta SDGs 3 (Good Health and Well-Being) dengan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat melalui pengurangan timbunan sampah rumah tangga. Sehingga diharapkan dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.