Cerdas Bersosial, Bijak Berdigital: Sosialisasi Anti Bullying dan Cyberbullying bagi Siswa Sekolah Dasar Negeri Bulak Banteng
Mahasiswa KKN UNAIR edukasi siswa kelas 6 SD Bulak Banteng cegah bullying & cyberbullying. Siswa deklarasikan komitmen tolak perundungan.
Surabaya – Maraknya kasus perundungan di kalangan anak-anak, baik secara langsung di lingkungan sekolah maupun melalui ranah digital, menjadi perhatian serius berbagai pihak. Menjawab keprihatinan tersebut, mahasiswa Kelompok Bulak Banteng 2 Universitas Airlangga yang tergabung dalam Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 menggelar sosialisasi pencegahan bullying dan cyberbullying di SD Negeri Bulak Banteng, Kecamatan Kenjeran, Surabaya.
Kegiatan yang mengusung tema "Cerdas Bersosial, Bijak Berdigital: Membangun Generasi Tangguh Tanpa Bullying" ini menyasar siswa kelas 6 sebagai bekal menghadapi masa transisi ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Pada usia tersebut, anak-anak mulai aktif menggunakan gawai dan mengakses media sosial, sehingga risiko terpapar perundungan digital semakin meningkat.
Memasuki sesi inti, kegiatan diawali dengan pretest mengenai pengetahuan dasar bullying dan cyberbullying untuk mengukur pemahaman awal siswa. Selanjutnya, pemaparan materi dibagi dua sesi. Sesi pertama membahas bullying dan sesi kedua membahas cyberbullying. Adha Fabryan selaku pemateri menjelaskan definisi perundungan, jenis-jenis, dampak bagi korban dan pelaku, serta cara menghadapi dan melaporkan tindakan perundungan.
“Jenis perundungan dibagi 3, yakni fisik, verbal, dan psikologis. Baik pelaku dan korban perundungan akan mendapat dampak negatif masing-masing.” Jelas Adha saat menyampaikan materi di SMP Cahaya, Surabaya, Jumat (17/7/2026).
Sesi kedua membahas cyberbullying: pengertian, bentuk-bentuk perundungan di dunia digital (penyebaran hoax, ujaran kebencian, pengucilan daring), dampak psikologis, serta tips bijak bermedia sosial dan melindungi diri dari kejahatan siber.
Dinda juga menambahkan penjelasan terkait efek negatif bullying “Bahwa perundungan tidak hanya memicu hilangnya kepercayaan diri dan kemalasan untuk bersekolah, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental korban, seperti timbulnya kecemasan berlebihan.”
Kegiatan berlanjut ke sesi diskusi interaktif dan tanya jawab. Siswa mengajukan pertanyaan tentang membedakan candaan dan bullying, menangani teman pelaku perundungan, hingga merespons komentar negatif di media sosial. Mahasiswa menjawab serta memberikan contoh konkret yang mudah dipahami.
Sesi dilanjutkan dengan dilakukan post test untuk memastikan pemahaman. Hasil pre test dan post test menunjukkan peningkatan pemahaman signifikan, terutama dalam mengidentifikasi perilaku bullying dan langkah perlindungan diri dari cyberbullying.
Puncak kegiatan adalah deklarasi komitmen seluruh siswa kelas 6 untuk menolak segala bentuk perundungan, baik di sekolah maupun di dunia maya, serta berjanji menjadi generasi cerdas bersosial dan bijak berdigital. Acara ditutup dengan pembagian bingkisan edukatif dan foto bersama.
Kepala Sekolah SD Negeri Bulak Banteng mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN UNAIR. Menurutnya, sosialisasi ini sangat relevan dengan kebutuhan siswa saat ini di tengah kompleksitas pergaulan dan kemajuan teknologi. Beliau berharap kegiatan serupa rutin dilaksanakan mengingat pentingnya pendidikan karakter dan literasi digital sejak dini.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Kelompok Bulak Banteng 2 Universitas Airlangga menunjukkan peran strategis dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian masyarakat. Sinergi mahasiswa, pihak sekolah, dan masyarakat menjadi modal penting menciptakan program pemberdayaan berkelanjutan. Kegiatan ini sejalan dengan semangat mewujudkan Kampung Pancasila yang sehat, berdaya, inklusif, dan sejahtera, dimulai dari lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi generasi penerus bangsa.