Detail Artikel

Sambang Desa 2026: Mahasiswa UNAIR Belajar Bertani di KWT Sewel Cantik

Cindyrahma Anggraini (Mahasiswa) Dipublikasikan 22 July 2026
Sambang Desa 2026: Mahasiswa UNAIR Belajar Bertani di KWT Sewel Cantik

Mahasiswa UNAIR belajar pembibitan dan budidaya tanaman bersama KWT Sewel Cantik untuk mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan desa.

UNAIR NEWS – Panitia Sambang Desa 2026 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) mengunjungi Kebun Bibit dan Sayur milik Kelompok Wanita Tani (KWT) Sewel Cantik di Dusun Krajan 3, Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan pada Minggu, 19 Juli 2026. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian Program Sambang Desa 2026 yang bertujuan mengenalkan potensi pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian sekaligus mempererat kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat desa. 

KWT Sewel Cantik berdiri pada 2021 setelah mendapatkan dukungan lahan dari pemerintah desa. Lahan yang sebelumnya ditumbuhi berbagai jenis pohon kemudian dirombak menjadi kebun bibit dan sayuran yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT). Pada awal pembentukannya, para anggota bergotong royong membersihkan lahan, mencangkul tanah, serta menyiapkan bedengan sebelum mulai melakukan pembibitan dan penanaman.

Saat ini, kebun tersebut masih aktif dan dimanfaatkan masyarakat sekitar. Selain menjadi tempat budidaya berbagai jenis sayuran, kebun juga berfungsi sebagai pusat pembibitan yang dapat dimanfaatkan warga. Bibit tanaman seperti selada, tomat, dan bawang dapat diambil secara gratis oleh anggota KWT untuk kemudian ditanam di pekarangan rumah masing-masing.

Menurut pengurus KWT, keberadaan kebun tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk bantuan awal dari dinas terkait berupa dana dan sarana produksi. Meski sejumlah peralatan telah mengalami kerusakan seiring waktu, semangat untuk mempertahankan kebun tetap terjaga sehingga manfaatnya masih dapat dirasakan masyarakat hingga saat ini.

"Dulu tujuan dibentuknya kebun ini memang untuk membantu dan menyejahterakan masyarakat. Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan dan tetap dimanfaatkan warga sekitar," ujar salah satu pengurus KWT.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa tidak hanya melakukan wawancara, tetapi juga mengikuti proses pembibitan dan mengenal berbagai teknik budidaya tanaman. Pengurus KWT menjelaskan bahwa proses pembibitan memerlukan waktu sekitar satu bulan sebelum bibit siap dipindahkan ke lahan tanam. Selain itu, mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan, mulai dari selada, bawang, buncis, hingga tanaman hias.

Mahasiswa turut memperoleh penjelasan mengenai teknik budidaya tomat, termasuk perbedaan tomat konsumsi dan tomat untuk pembibitan. Pengurus KWT menjelaskan bahwa proses produksi benih tomat dilakukan secara khusus melalui penyerbukan buatan agar menghasilkan benih berkualitas yang nantinya dipasarkan ke berbagai daerah.

Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan kebun berbasis masyarakat sekaligus memahami pentingnya peran Kelompok Wanita Tani dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi desa. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.