Merawat Warisan Budaya, Mahasiswa BBK 8 Telempong Pelajari Tradisi Pocien
Mahasiswa BBK 8 Telempong mempelajari Tradisi Pocien sebagai warisan budaya ungkapan syukur, tolak bala, dan permohonan keselamatan.
Lantunan syair berbahasa Madura yang berpadu dengan suara pengiring tanpa iringan alat musik menggema di Dusun Krajan, Desa Telempong, Senin (20/7/2026) malam. Suasana khidmat menyelimuti puncak pelaksanaan Tradisi Pocien yang telah berlangsung selama tujuh hari berturut-turut. Bagi mahasiswa BBK 8 Telempong, momen tersebut menjadi pengalaman berharga untuk mengenal secara langsung salah satu warisan budaya masyarakat yang hingga kini tetap lestari. Kehadiran mahasiswa pada puncak Tradisi Pocien menjadi bagian dari pembelajaran mengenai nilai budaya, kebersamaan, dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Tradisi Pocien merupakan warisan budaya yang secara turun-temurun dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Krajan dan Dusun Bungur sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, ikhtiar memohon keselamatan, tolak bala, serta doa agar masyarakat senantiasa dijauhkan dari berbagai hal yang tidak diinginkan. Selain itu, syair-syair yang dilantunkan dalam prosesi juga berisi pujian kepada sosok yang dipercaya sebagai pembabat alas Desa Telempong.
Puncak Tradisi Pocien diawali dengan sambutan Kepala Desa Telempong, Yon Haryono, yang akrab disapa Pak Tinggi. Dalam sambutannya, ia mengajak masyarakat untuk terus melestarikan Tradisi Pocien sebagai warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Ia juga mengingatkan pentingnya memahami perbedaan antara budaya dan ajaran agama agar tradisi tetap dapat dilestarikan tanpa menimbulkan pemahaman yang keliru.
"Budaya harus tetap kita lestarikan. Yang harus dipahami masyarakat adalah membedakan mana yang merupakan budaya dan mana yang merupakan ajaran agama agar tidak muncul pemahaman yang keliru ataupun mengarah pada kemusyrikan," ujarnya.
Pak Tinggi juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan semangat gotong royong antardusun. Menurutnya, kepedulian antarsesama menjadi salah satu nilai yang harus terus dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia berpesan, "Kalau salah satu dusun mempunyai kegiatan, dusun yang lain harus ikut membantu. Jangan sampai saling acuh tak acuh. Kerukunan seperti inilah yang harus terus kita jaga." Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian Tradisi Pocien tidak hanya bertujuan menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat solidaritas dan kebersamaan masyarakat Desa Telempong.
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama, kemudian seluruh warga menikmati hidangan yang telah dibawa dari rumah masing-masing. Setiap keluarga membawa tumpeng yang dihiasi telur di bagian atas, ayam goreng, serta aneka jajanan tradisional seperti lepet dan nagasari. Seluruh hidangan dikumpulkan hingga memenuhi area pelaksanaan sebelum disantap bersama. Tradisi makan bersama tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan masyarakat.
Usai makan bersama, rangkaian inti Tradisi Pocien dimulai dengan pembacaan syair Pocien oleh kelompok pembaca yang berasal dari Dusun Krajan dan Dusun Bungur. Masyarakat yang hadir, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti prosesi dengan khidmat hingga selesai. Syair Pocien dilantunkan menggunakan bahasa Madura dengan beberapa kosakata yang berasal dari bahasa Sanskerta. Menurut Yon Haryono, syair tersebut tidak memiliki kitab ataupun naskah tertulis, melainkan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Ia menambahkan bahwa regenerasi pembaca syair terus dilakukan agar Tradisi Pocien tetap lestari. Keunikan lainnya terletak pada suara pengiring yang dihasilkan langsung dari mulut para pembaca sehingga membentuk harmoni khas tanpa menggunakan alat musik.
Melalui kehadiran dalam puncak Tradisi Pocien, mahasiswa BBK 8 Telempong memperoleh pengalaman berharga untuk mempelajari secara langsung nilai-nilai budaya, semangat gotong royong, dan kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Telempong. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa dalam memahami kearifan lokal sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian budaya di tengah masyarakat.
#UniversitasAirlangga
#KampusBerdampak