Detail Artikel

Atasi Krisis Tempat Sampah, Mahasiswa BBK 8 Unair Ajak Warga Desa Mejuwet Olah Sampah Organik Menjadi Pakan Ternak Melalui Kegiatan "SOBAT: Sampah Organik Bermanfaat"

DEWA HALIM RABBANI (Mahasiswa) Dipublikasikan 23 July 2026
Atasi Krisis Tempat Sampah, Mahasiswa BBK 8 Unair Ajak Warga Desa Mejuwet Olah Sampah Organik Menjadi Pakan Ternak Melalui Kegiatan "SOBAT: Sampah Organik Bermanfaat"

Mengubah sampah organik menjadi pakan ternak yang tidak berbau dengan menggunakan probiotik EM4

Mejuwet, Bojonegoro – Ketiadaan fasilitas tempat pembuangan sampah menjadi persoalan lingkungan yang dihadapi hampir seluruh wilayah di Desa Mejuwet, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Untuk menjawab persoalan tersebut, Kelompok Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga menyelenggarakan program kerja edukasi dan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak bagi warga setempat pada Minggu, 19 Juli 2026, dengan Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes., sebagai pembicara.

Kegiatan ini digagas setelah mahasiswa BBK 8 melakukan survei dan penggalian informasi kepada aparatur desa maupun masyarakat sekitar. Dari 12 RT yang ada di Desa Mejuwet, hampir seluruhnya menghadapi masalah serupa, yaitu tidak tersedianya fasilitas tempat pembuangan sampah sehingga warga tidak dapat membuang sampah langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Akar Masalah yang Berantai

     Program "SOBAT: Sampah Organik Bermanfaat" sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pemanfaatan kembali sampah organik menjadi produk yang bernilai guna, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan praktik pembakaran sampah yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca. Selain itu, program ini juga mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) karena melibatkan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, akademisi, dan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan lingkungan secara berkelanjutan.

Ketiadaan fasilitas pembuangan sampah membuat warga terpaksa menempuh cara pembakaran untuk menghilangkan sampah, sebuah praktik yang berdampak buruk terhadap kualitas udara di sekitar desa. Padahal, praktik pembakaran sampah telah dibatasi dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang mengamanatkan bahwa pengelolaan sampah harus dilakukan dengan cara yang aman bagi kesehatan dan lingkungan. Mahasiswa BBK 8 menilai persoalan sampah ini tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja, sehingga dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak untuk mengatasinya secara berkelanjutan.

Sampah Organik Diolah Menjadi Pakan Ternak

       Inovasi pemanfaatan sampah organik menjadi pakan ternak juga berkontribusi terhadap SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui upaya mendukung ketahanan pangan dan peternakan yang lebih efisien dengan menyediakan alternatif pakan berbiaya lebih rendah. Dengan demikian, program ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi peternak sekaligus menciptakan sistem pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Mengingat mayoritas warga Desa Mejuwet berprofesi sebagai petani dan peternak, mahasiswa BBK 8 mengusulkan inovasi berupa pemanfaatan sampah organik segar untuk diolah menjadi pakan ternak. Proses pengolahan dilakukan melalui fermentasi menggunakan probiotik EM4, yang berfungsi menambah daya simpan pakan, menghilangkan bau yang biasa menjadi kendala dalam peternakan, sekaligus mempermudah pakan dicerna oleh hewan ternak.

Pemilihan inovasi ini didasari oleh beberapa pertimbangan, yaitu harga pakan ternak yang cukup mahal bagi peternak, volume sampah organik yang melimpah namun sulit dibakar, serta adanya sisa sampah makanan dari beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum diketahui cara mengelolanya. Kombinasi faktor tersebut menjadi dasar keyakinan mahasiswa bahwa inovasi ini berpotensi berhasil diterapkan di desa tersebut. Untuk mendukung keberlanjutan program ini, seluruh peternak diusulkan membentuk kelompok ternak yang nantinya beranggotakan berbagai jenis peternak agar dapat memproduksi pakan ternaknya sendiri secara mandiri.

"Saya harap nanti akan terbentuk kelompok ternak agar kami bisa masuk ke daerah ini untuk melakukan pengabdian masyarakat mandiri berupa pelatihan pembuatan pakan," ujar Dr. Emy.

Respons Positif Warga

Program kerja ini mendapat sambutan baik dari masyarakat, terlihat dari banyaknya peternak yang hadir saat acara berlangsung. Warga turut aktif bertanya kepada dosen pendamping maupun narasumber lain yang hadir sebagai pakar di bidang pengolahan pakan ternak guna memperjelas hal-hal yang belum mereka pahami. Melalui program ini, mahasiswa BBK 8 berharap inovasi pemanfaatan sampah organik menjadi pakan ternak dapat terus dijalankan warga secara berkelanjutan, sehingga mampu memperbaiki kualitas lingkungan hidup di Desa Mejuwet sekaligus meringankan beban biaya pakan bagi peternak setempat.

Penulis : Mahasiswa BBK 8 Universitas Airlangga Desa Mejuwet