Rumah Bebas Jentik, Aksi Mahasiswa BBK 8 UNAIR Dorong Kader Jumantik Dumplengan Cegah DBD dan Chikungunya
Mahasiswa BBK 8 UNAIR sosialisasikan Rumah Bebas Jentik ke kader Jumantik Dumplengan guna cegah DBD dan Chikungunya, Senin (20/7/2026).
Dumplengan – BBK 8 Dumplengan mengadakan sosialisasi bertajuk "Rumah Bebas Jentik" bagi ibu-ibu kader Juru Pemantau Jentik atau Jumantik di Balai Desa Dumplengan, Senin, 20 Juli 2026, pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mencegah penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya melalui pemberantasan sarang nyamuk serta pemeriksaan jentik secara rutin.
Kegiatan diawali dengan pengerjaan pretest untuk mengetahui pemahaman awal peserta mengenai DBD, Chikungunya, tempat perkembangbiakan nyamuk, identifikasi jentik, dan langkah-langkah pencegahannya. Hasil pretest tersebut digunakan sebagai gambaran awal sebelum peserta menerima materi sosialisasi.
Dalam sesi pemaparan, peserta memperoleh penjelasan mengenai DBD sebagai penyakit infeksi akibat virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang terinfeksi. Peserta juga diperkenalkan dengan gejala yang perlu diwaspadai, seperti demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam atau bintik merah pada kulit. Materi selanjutnya membahas Chikungunya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit tersebut umumnya ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri sendi hebat, nyeri otot, sakit kepala, ruam kemerahan, dan kelelahan.
Para kader juga mendapat penguatan mengenai penerapan 3M Plus, yaitu menguras dan membersihkan tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air. Langkah tersebut perlu disertai pemeriksaan jentik, pembersihan saluran air, penghilangan genangan, dan menjaga kondisi rumah agar tetap bersih, terang, serta memiliki sirkulasi udara yang baik.
Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Para peserta menyimak materi dengan saksama dan aktif mengajukan pertanyaan mengenai cara mengenali jentik, tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta langkah yang dapat dilakukan saat menemukan jentik di lingkungan rumah.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap kader Jumantik tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengajak masyarakat melakukan pemeriksaan jentik dan menjaga kebersihan lingkungan secara rutin," ujar Elsa Ayu Violita dan Diva Nesya.
Sebagai tindak lanjut, tim pemateri membagikan lembar cek Rumah Bebas Jentik kepada para kader. Lembar tersebut akan digunakan kader Jumantik saat melakukan pemantauan dan edukasi kepada warga setempat. Melalui lembar cek tersebut, kondisi rumah warga dapat diperiksa secara lebih terarah, sekaligus menjadi pengingat agar kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dilakukan secara berkala.
Kegiatan kemudian ditutup dengan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti sosialisasi. Berdasarkan hasil evaluasi, nilai rata-rata peserta meningkat dari 86,3 menjadi 93,3, dengan peningkatan sebesar 8,1%. Melalui sosialisasi dan penggunaan lembar cek tersebut, kader Jumantik diharapkan dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan rumah dan lingkungan yang bebas jentik serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan DBD dan Chikungunya.