Detail Artikel

Rawat Kearifan Lokal, Tradisi Pojhien Desa Telempong - Mendukung SDG 4

AYESHA DANISH HAQ (Mahasiswa) Dipublikasikan 23 July 2026

Harmonis rawat budaya dan tolak bala, warga bersama mahasiswa khusyuk melantunkan tradisi Pojhien di Telempong, Situbondo, Senin (20/7/2026).

Telempong, 20 Juli 2026 - Malam di Desa Telempong, Kabupaten Situbondo, terasa lebih istimewa pada Senin (20/7/2026). Di tengah sejuknya udara pegunungan, sayup-sayup terdengar lantunan pujian berbahasa Madura memecah keheningan. Malam itu, para mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 8 Universitas Airlangga berkesempatan melebur bersama warga dalam kemeriahan puncak perayaan tradisi leluhur bernama "Pojhien".

Pojhien bukanlah sekadar kumpul warga biasa. Tradisi ini ibarat mesin waktu yang merawat ingatan tentang asal-usul desa dan mengisahkan kembali jejak langkah sang pendiri, Mbah Bujuk sebagai penjaga Desa Telempong. Selama tujuh hari berturut-turut, para bapak dan sesepuh desa dengan khusyuk melantunkan pujian dengan iringan acapella. 

Suasana semakin hangat begitu menginjak malam puncak. Warga tumpah ruah menggelar tradisi selametan. Pemandangan indah terlihat ketika para ibu dengan rukun bergotong royong membawa nampan-nampan berisi aneka kue, nasi berhiaskan telur rebus, dan minuman. Hidangan sarat makna ini kemudian disantap bersama, menemani para sesepuh yang tak lelah melantunkan pujian hingga tengah malam menyapa.

Bagi masyarakat pegunungan Telempong, Pojhien lebih dari sekadar sejarah, ia diyakini sebagai tameng spiritual penolak bala. Sudah enam dekade lebih tradisi ini dijaga. Warga tidak asal menggelarnya dari segi tata cara, waktu, sampai tempat pelaksanaan, semuanya mengikuti pakem yang diwariskan turun-temurun, dan itu yang membuat Pojhien di Telempong disebut tidak punya "kembaran" di desa lain se-Kabupaten Situbondo.

"Acara Pojhien diadakan secara rutin 6 bulan sekali. Tetapi, jika terdapat banyak musibah dalam satu waktu yang berdekatan, maka acara Pojhien bisa langsung diadakan," cerita Ibu Yuni, salah satu warga setempat.

Selain pujian, ada pula tradisi unik di area Asta (makam) Mbah Bujuk yang kerap menjadi tempat warga ber-nazar. Jika sebuah doa atau harapan terwujud, misalnya berhasil mendapatkan pekerjaan. Warga yang ber-nazar wajib menyembelih kambing hitam dan membagikan dagingnya untuk disantap bersama di area makam tersebut.

Di balik kesan tradisionalnya, Pojhien nyatanya sangat relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Lewat tutur lisan yang mengalir dari generasi ke generasi, tradisi ini ikut menjadi ruang pendidikan informal yang menyokong SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas). Di sinilah anak-anak muda diharapkan menyerap nilai tata krama, menjaga rasa hormat kepada yang lebih tua, dan menemukan akar identitas budayanya.

Tidak hanya itu, canda tawa dan interaksi hangat saat makan bersama menjadi bukti nyata hadirnya SDG 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan). Melalui kentalnya gotong royong dan solidaritas dalam Pojhien, warga Desa Telempong sejatinya sedang membangun fondasi sebuah komunitas yang inklusif, tangguh, rukun, dan berkelanjutan untuk masa depan.

Berita ini mendukung SDG 4: Quality Education dan SDG 11: Sustainable Cities and Communities.

#SDG4 #QualityEducation #SDG11 #SustainableCitiesAndCommunities #TradisiPojhien #BBK8Unair