Detail Artikel

Mahasiswa KKN Internasional UNAIR Timba Ilmu Pemberdayaan Perempuan di Sister Project Perth

AMANDA VALERIE PUTRI ADI WIBOWO (Mahasiswa) Dipublikasikan 23 July 2026
Mahasiswa KKN Internasional UNAIR Timba Ilmu Pemberdayaan Perempuan di Sister Project Perth

Tracey Cave, CEO Sister Project, memaparkan program pemberdayaan perempuan kepada mahasiswa BBK Internasional, pada Selasa (21/7/2026). (Foto: Dok. Tim BBK)

UNAIR NEWS – Kelompok 1 Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Komunitas (KKN - BBK) Internasional Universitas Airlangga (UNAIR) di Curtin University melakukan kunjungan ke Sister Project, sebuah organisasi nirlaba pemberdayaan perempuan yang berbasis di Ellenbrook, Perth, Western Australia, pada 21 Juli 2026. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mempelajari secara langsung praktik pemberdayaan perempuan migran dan nonmigran yang telah berjalan di komunitas tersebut.

Sister Project merupakan wirausaha sosial nirlaba yang berdiri sejak 2019 dan telah mendampingi lebih dari 500 perempuan dari lebih dari 30 negara. Organisasi itu berfokus membantu perempuan migran maupun nonmigran, termasuk mereka yang ditinggal pasangan atau hidup sendiri, agar mampu mengembangkan keterampilan diri dan hidup mandiri secara ekonomi maupun sosial.

Dalam kunjungan itu, mahasiswa mendapat pemaparan mengenai berbagai program yang dijalankan Sister Project. Mulai dari kelas bahasa Inggris mingguan, lokakarya berbagi keterampilan, pendampingan pencarian kerja, hingga fasilitasi perempuan untuk merintis usaha sendiri. Sister Project juga menyediakan wadah bagi perempuan migran untuk memasarkan hasil karya seni, kerajinan, dan masakan mereka melalui pasar komunitas dan media sosial.

Tracey Cave, selaku CEO Sister Project, menjelaskan bahwa pendekatan komunitas menjadi kunci keberhasilan program. "Meskipun berasal dari jurusan yang berbeda-beda, kami melihat bahwa konsep pemberdayaan yang diterapkan Sister Project dapat diimplementasikan sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Setiap disiplin memiliki peran untuk berkontribusi sehingga kolaborasi lintas bidang menjadi kunci dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan," ujarnya.

Ia menambahkan, banyak perempuan yang datang dalam kondisi terisolasi tanpa keluarga di Australia. "Kami membantu perempuan yang terisolasi untuk membangun kembali kepercayaan diri, meningkatkan keterampilan, dan menjadi lebih mandiri. Ketika mereka memiliki kemampuan dan dukungan yang tepat, mereka dapat menciptakan peluang baru bagi masa depan mereka," imbuhnya.

Diskusi Interaktif Lintas Disiplin

Tidak hanya menerima pemaparan, mahasiswa Kelompok 1 juga terlibat dalam diskusi interaktif bersama presenter Sister Project. Diskusi tersebut mengangkat topik pemberdayaan perempuan serta bagaimana mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan dapat memanfaatkan wawasan tersebut di bidangnya masing-masing.

Mahasiswa dari rumpun ekonomi, misalnya, menyoroti model wirausaha sosial dan skema pendanaan komunitas yang diterapkan Sister Project. Sementara itu, mahasiswa dari rumpun ilmu lain mengaitkan praktik pemberdayaan tersebut dengan isu kesehatan mental, pendidikan, komunikasi, hingga kebijakan sosial.

Kunjungan tersebut sejalan dengan komitmen UNAIR dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 5 (Kesetaraan Gender) melalui pembelajaran praktik pemberdayaan perempuan, SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) lewat model wirausaha sosial yang membuka akses ekonomi bagi perempuan migran, serta SDGs 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui inklusi sosial kelompok rentan.

Melalui kunjungan itu, mahasiswa diharapkan mampu membawa pulang pembelajaran mengenai model pemberdayaan perempuan yang holistik dan berkelanjutan. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi bekal bagi mahasiswa UNAIR untuk berkontribusi dalam isu kemandirian perempuan, baik di Australia maupun ketika kembali ke Indonesia.