BBK 8 Universitas Airlangga Hadiri Tradisi Sedekah Bumi, Wujud Pembelajaran Budaya Lokal Mendukung SDGs 11
BBK 8 Universitas Airlangga hadiri prosesi kirim doa dalam tradisi Sedekah Bumi bersama masyarakat Desa Sidokumpul, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban pada Rabu (15/7/2026).
UNAIR NEWS — Tim BBK 8 Universitas Airlangga ikut hadiri prosesi kirim doa dalam tradisi Sedekah Bumi bersama masyarakat desa pada Rabu (15/7/2026) di Desa Sidokumpul, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban. Tradisi Sedekah Bumi ini dilaksanakan rutin setiap Satu Suro. Melalui tradisi ini mahasiswa dari tim BBK 8 memiliki kesempatan secara langsung untuk mengenal dan mempelajari kearifan lokal yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk mendokumentasikan kegiatan, tetapi juga memahami nilai budaya, penyampaian rasa syukur, dan penghormatan kepada leluhur.
Prosesi tersebut dipimpin oleh modin desa, selaku perangkat masyarakat di bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Tidak hanya dilakukan pada satu tempat, tradisi Sedekah Bumi dilaksanakan pada dua pemakaman berbeda, yaitu Makam Cabe dan Makam Jabor. Dalam prosesi kirim doa, masyarakat Desa Sidokumpul berkumpul di makam keluarga atau leluhur yang telah dimakamkan pada salah satu lokasi pemakaman tersebut. Setelah prosesi doa selesai, warga saling bertukar makanan yang telah dibawa dari rumah sebagai bentuk penyampaian rasa syukur atas berkah yang diberikan Tuhan dan sebagai bentuk sedekah terhadap sesama, kemudian dilanjutkan dengan berziarah ke makan keluarga atau leluhur masing-masing.
Menurut Pak Asngari, selaku modin Desa Sidokumpul, tradisi Sedekah Bumi ini awalnya dikenal dengan istilah “manganan” yang berarti makan-makan setelah pelaksanaan doa di pemakaman. Tradisi tersebut sebelumnya telah sejak dahulu dilaksanakan di Dusun Talok dan Dusun Bendo yang kemudian dijadikan satu dan menghasilkan sebuah nama desa, yakni Desa Sidokumpul yang berarti “berkumpul” atau “dikumpulkan”.
“Awalnya warga itu melakukan Sedekah Bumi di dusun-dusun leluhur yang ikut babat tanah desa, yaitu Dusun Talok dan Dusun Bendo,” ujar Pak Asngari. Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu tradisi Sedekah Bumi tidak hanya diisi dengan mengirimkan doa bersama, saling bertukar makanan, dan ziarah ke makam keluarga, tetapi juga kegiatan memasak serta menikmati hidangan bersama di area pemakaman sebagai simbol kebersamaan.
Selain prosesi kirim doa, masyarakat desa juga menggelar pertunjukkan kesenian seperti pertunjukkan wayang dan penampilan campursari. Pada tahun ini, tradisi Sedekah Bumi dilakukan selama empat hari, yaitu hari pertama dibuka dengan pertunjukkan wayang kulit di Dusun Bendo, kemudian hari kedua terdapat penampilan Campursari di Dusun Talok, hari ketiga diisi dengan khataman Al-Qur'an di Dusun Bendo dan ditutup oleh kirim doa di pemakaman Cabe dan Jabor.
Kepala Desa Sidokumpul juga mengapresiasi masyarakat setempat yang hingga kini tetap menjaga tradisi leluhur tersebut. Menurutnya, tradisi Sedekah Bumi merupakan kebudayaan dan tinggalan leluhur yang tetap harus dihormati bukan ditinggalkan. Melalui keikutsertaan dalam kegiatan ini, Tim BBK 8 Universitas Airlangga dapat mengenal dan belajar secara langsung mengenai tradisi dan kearifan lokal masyarakat Desa Sidokumpul. Pelestarian tradisi ini diharapkan dapat terus berlanjut dan dapat memperkuat identitas budaya desa sekaligus menjadi warisan untuk generasi mendatang.
Berita ini mendukung SDGs 11: Sustainable Cities and Communities
#SDG11 #GoodHealthandWellBeing #SDGsUNAIR