Detail Artikel

Berpartisipasi Langsung dalam Persiapan Pakan, Mahasiswa BBK 8 Internasional Berkunjung ke AMUMS dan Inkubasi UMS Sebagai Bentuk Penerapan SDG 14: Life Below Water

SARAH DEVIANA (Mahasiswa) Dipublikasikan 20 July 2026

Mahasiswa BBK Internasional turun langsung dalam pembersihan tank ikan di AMUMS.

Sebanyak 25 mahasiswa BBK Internasional Universiti Malaysia Sabah (UMS) bersama pihak Institute of Marine Biotechnology (IMB) Universiti Malaysia Sabah melakukan kunjungan di AMUMS (Aquarium and Marine Museum), dan mengamati langsung lokasi inkubasi dari setiap makhluk laut yang dibudidaya. Kegiatan kunjungan ini dilaksanakan selama dua hari bersama kedua kegiatan lainnya, tepatnya mulai tanggal 15 s.d. 16 Juli 2026, pukul 08.30 - 17.00 (GMT +8).

Kunjungan di AMUMS membawakan para mahasiswa kepada rahasia di balik kehidupan dalam setiap akuarium. Mahasiswa mengamati, serta diberi kesempatan untuk langsung terjun terhadap proses pemberian pakan setiap budidaya, mulai dari memotong hingga feeding di jam yang dijadwalkan. Diperkenalkan juga tatacara, serta alat dan bahan untuk pembersihan tank. Dengan menggunakan apron dan boots, mahasiswa langsung turun tangan dalam membersihkan setiap tank ikan.

Menariknya, AMUMS melakukan pemeliharaan terhadap salah satu penyu berukuran besar yang terdampar, diperkirakan berusia 10 tahun, yang mengalami syndrome sehingga menyebabkan si penyu tidak bisa menyelam dan hanya mengapung saja. Sehingga, si penyu diberikan perawatan intensif dalam satu kolam besar. "Namanya Michael Angelo, ditemukan terdampar lalu diselamatkan. Kita rawat dia hingga pulih" ucap salah satu staff AMUMS.

Selanjutnya, pada lokasi inkubator, diperkenalkan beragam proses pembuahan dari setiap hewan budidaya dengan kolam berteknologi flow-thru yang menjaga air kolam tetap pada takaran seharusnya. Salah satunya adalah proses stripping, untuk mengeluarkan bakal telur dari perut ikan. "Telur yang dikeluarkan dapat dipisahkan, yang mengapung berarti telur yang sehat dan biasanya tidak mudah hancur. Berbeda dengan telur yang mati, dia ada di dasar air dan mudah hancur. Sedangkan, telur yang mati biasanya tenggelam di dasar air, dan mudah hancur" ucap salah satu staff di lokasi inkubasi.

Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap SDGs 14: Life Below Water, tepatnya pada target 14.b tentang meningkatkan pengetahuan dan penelitian tentang kelautan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai praktik budidaya dan konservasi biota laut yang diterapkan di Universiti Malaysia Sabah, sekaligus membuktikan kualitas IMB Universiti Malaysia Sabah sebagai pelopor pendidikan maritim.